Langsung ke konten utama

Ideologi dan Kesadaran Sastra

Iwan Kurniawan
Media Indonesia, 24 Feb 2013

PENIKMAT karya sastra, khususnya novel, pasti sudah tak asing lagi dengan sebuah novel yang cukup menyita perhatian dunia kesusastraan Indonesia, Atheis, karya Achdiat Karta Mihardja (1911-2010).

Bila membacanya kembali, kita akan mengingat roman yang menggunakan tiga gaya naratif. Tentu saja tokoh utama, Hasan, seorang muslim muda, dibesarkan untuk berpegang pada agama. Namun, Hasan meragukan agamanya sendiri setelah berurusan dengan seorang sahabat penganut Marxisme–Leninisme dan seorang penulis penganut nihilisme.


Ada konflik yang membuat novel tersebut tetap laik dibaca hingga saat ini. Dengan mencermati proses penulisan novel tersebut saat Achdiat berusia sekitar 37 atau 38 tahun, tak mengherankan pada usia itulah kebanyakan penulis biasanya menemukan jati diri.

Dalam novel tersebut tersuguh sekelumit persoalan. Terutama, tokoh Hasan yang terpaksa harus menanggalkan status keagamaan lahiriahnya. Apa yang dipikirkan Achdiat menjadi salah satu hal menarik yang patut dikaji dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam teori sastra yang ada.

Tentu saja, dalam novel tersebut, ada ideologi yang ia masukkan secara terperinci. Persoalan Marxisme–Leninisme begitu kuat. Entah ia sengaja atau tidak untuk menunjukkan sebuah perlawanan lewat karya sastra. Apalagi, latar belakang Achdiat yang flamboyan itu adalah seorang sosialis.

Memang, akan sulit meletakkan karya sastra secara bebas nilai. Itu mungkin beberapa teori sastra yang terlahir dalam semangat filsafat positivisme, filosofi yang mendukung objektivitas dan netralitas keilmuan.

Teori struktural, misalnya, dalam kadar tertentu memang tidak berpretensi untuk membuka peluang subjektif pengkaji dalam menganalisis karya sastra. Namun, kita tentu saja tahu bahwa kritikan dan timbangan sastra mutlak dilakukan, baik dikaji secara ilmiah maupun sebatas diskusi ala warung kopi.

Novel Atheis menunjukkan ada sebuah pemberontakan dalam jiwa penulis, terutama pada ideologi sebagai seorang penganut sosialis hingga dimasukkan ke novelnya.

Berbeda dengan Achdiat, novel Maluku Kobarkan Cintaku (2010) karya Ratna Sarumpaet mengangkat konflik SARA di Maluku. Namun, ada sebuah kesamaan, yaitu Achdiat dan Ratna begitu berani menghadirkan pandangan ideologi secara nyata dalam karya masing-masing.

Benang merah yang ada yaitu Achdiat menghadirkan konflik batin, sedangkan Ratna menghadirkan konflik sosial. Ratna mampu memberikan sebuah alur yang sangat menggugah. Namun, ia belum begitu berani dalam menunjukkan ideologi secara nakal.

Persoalan sedikit jelas saat Ratna memasukkan tradisi nenek moyang orang Maluku, yaitu pela gandong, dalam novelnya. Itu menjadi sebuah resistensi yang mampu membawa sebuah paradigma baru pada kebinekaan di Maluku.

Pertarungan

Persoalan akan sebuah eksistensi begitu kuat dalam karya sastra. Di balik itu, tentu saja ada pertarungan ideologi untuk menghadirkan konflik dan alur. Walau hanya bersifat fiksi, emosi yang disajikan seorang novelis terbukti lebih lama membekas.

Dalam masyarakat modern, yang juga memengaruhi pribadi sastrawan, ciri perseorangan dalam karyanya biasanya ia memiliki ciri khas tersendiri.

Setiap pengarang pun berusaha untuk tidak menciptakan atau membuat sesuatu yang telah dilakukan pengarang lainnya. Mereka akan malu karena akan dicap sebagai plagiator.

Bagaimana dengan ideologi dalam sastra? Tentu saja, pengarang adalah seorang manusia, bukan dewa. Tanpa disadari, kerap kali ada sastrawan yang mencari sebuah ideologi lewat tokoh yang diciptakan.

Kini, teori-teori sastra terus berkembang. Persoalan objektivitas dan netralitas keilmuan mulai dipertanyakan. Kritikus sastra pun sudah mulai lupa pada jati diri mereka sebagai seorang yang menilai dan menghakimi secara objektif.

Untuk itu, kehadiran kritikus dalam ranah kesusastraan dapat menjadi ‘penjaga’ agar karya-karya sastra yang terlahir dari sastrawan dapat dikaji dan dikritik secara profesional.

Terlepas dari ideologi dan kesadaran sastra, kehadiran sebuah novel mungkin akan lebih diminati bila dibumbui dengan paham-paham yang ekstrem. Itu menjadi mengasyikkan karena sastra dapat menjadi sebuah wadah pembaruan. Menuangkan ide-ide penuh fantasi dan keliaran.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/02/ideologi-dan-kesadaran-sastra.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.