Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Sangkar Emas

Awalludin GD Mualif

Seorang bijak pernah dalam doanya senantiasa meminta kepada Sang Penguasa Alam agar ia tidak di takdirkan hidup disuatu masa yang memiliki arti penting. Sebab kita bukan orang bijak, Yang Maha Kuasa pun tidak mengindahkan kita dan kita pula hidup pada masa yang memiliki arti penting. Dalam segala aspek bidang, jaman kitalah yang mendorong kita untuk menjadikan dan mengenalkan arti masa yang penting ini. Bagi seorang kreatif saat ini paham akan fenomena ini. Saat waktunya mereka membuka suara, kritikan dan serangan akan menghantam, ketika mengambil sikap santun dan apatis, mereka dicela/dihina tanpa ampun.

Mitologi Melayu dan Sastrawan Riau

Agus Sri Danardana *
Riau Pos, 4 Nov 2012

TANPA harus menyangkal bahwa lahirnya kesusastraan (puisi) Indonesia modern banyak dipengaruhi oleh kesusastraan (poetika) Barat, kita pun harus mengakui bahwa sebelum berkenalan dengan kesusastraan Barat, sebenarnya kita sudah punya konvensi sastra sendiri. Konvensi sastra itu, dalam kenyataannya, tak dapat dengan begitu saja ditinggalkan oleh para sastrawan kita.

Menerjemahkan atau Menjinakkan Kartini?

Joss Wibisono *
Majalah Tempo, 24 Apr 2017

Menerjemahkan sebuah naskah adalah mencari padanan kata, kalimat, atau ungkapan bahasa yang digunakan dalam naskah itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensyaratkan persamaan yang setaraf, yang berimbang atau berbobot sama. Lebih dari itu, penerjemahan juga mensyaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terjemahan yang berhasil akan berhasil pula menerjemahkan nuansa sebuah karya, apalagi kalau karya itu berbobot sastra.

Betulkah Bentuk Mengkritisi?

J.S. Badudu
Intisari, Mar 2005

Menggunakan bahasa secara tepat dan benar tidaklah mudah. Tentu saja diperlukan pengetahuan tentang bahasa itu melalui pelajaran khusus. Pengetahuan berbahasa secara alami saja tidak cukup. Di sekolah, guru mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bahasa yang benar tentang makna kata, bentuk kata, dan susunan kata dalam kalimat.

Bahasa Lokal Kita yang Direndahkan

Lie Charlie
Intisari, Juni 2005

Dirjen Ditjen Bina Produksi Departemen pernah menembuskan sepucuk surat kepada Kepala Lembaga Bahasa Indonesia. Isinya berhubungan dengan penggunaan istilah “lokal” (yang dinilai bercitra kurang positif atau inferior) untuk memaknai produk buah-buahan hasil kebun Tanah Air sendiri.

Rusak Bahasa, Rusaklah Pemikiran

Faiz Manshur
Intisari, Sep 2005

Orang sering tidak paham tentang kesaktian yang terkandung dalam bahasa. Bahasa merupakan satu perkara dengan dunia pemikiran dan cita rasa. Kalau orang itu kacau pikirannya, bahasanya juga kacau. Bahasa dan hidup, dunia pemikiran dan dunia rasa itu satu. Nah, kita bisa saksikan karena pendidikan bahasa dalam sistem pendidikan sekarang ini kurang, maka cara mereka berpikir juga kacau. Caranya menghayati, merasakan juga ikut kacau.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com