Langsung ke konten utama

MEMUNGUT JEJAK FIGUR RAHMATAN LIL’ALAMIN

Judul Buku: Pesan Al Quran untuk Sastrawan
Jenis Buku: Kumpulan Esai Budaya dan Agama
Pengarang: Aguk Irawan MN
Tahun: 2013
Penerbit: Jalasutra Yogyakarta
Tebal: x + 434 hlm; 15 cm x 23 cm
Peresensi: Imamuddin SA

Aguk Irawan merupakan salah satu dari sekian banyak sastrawan Indonesa ternama. Setelah sekian lama ia bergelut dalam bidang prosa dan puisi, kini karya-karyanya semakin sempurna dengan hadirnya buku esainya yang berjudul “Pesan Al Quran untuk Sastrawan”. Buku ini mengukuhkan dirinya tidak hanya sebagai sastrawan tetapi juga sebagai seorang kritikus sastra.

Karya-karya yang hadir dalam buku ini merupakan karya yang berkualitas tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan keberadaan karya tersebut yang diambil dari karya pribadi Aguk yang telah termuat di berbagai media masa, baik nasional maupun daerah. Saya katakan sebagai karya berkualitas tinggi sebab untuk bisa menembus media masa itu sangat sulit dengan integritas kompetisi yang ketat dari para penulis.

Kumpulan esai ini sempat dibedah di tanah kelahiran penulisnya, Aguk, di Lamongan. Tepatnya di pondok pesantren Al Fathimiyah Banjarwati Paciran Lamongan. Sebelah baratnya Pondok Pesantren Sunan Drajad. Buku ini dibedah oleh seorang sastrawan dan esais asal Lamongan pula yaitu Nurel Javisyarqi. Menurut Nurel, karya Aguk ini menghidangkan santapan lezat bagi pembaca sebab dilandasi dengan kebenaran, megetengahkan keindahan bahasa yang santun, memperluas kewaspadaan perasaan insani. Karya ini juga karya yang lurus dan tidak aneh-aneh, tidak keblinger atau nyleneh. “Pesan Al Quran untuk Sastrawan” berawal dari hati yang teguh dan diselimuti dengan cahaya keimanan, penalaran kuat, penghayatan yang dalam, bukan rakitan apalagi akrobatik kata laksana sulapan.

“Pesan Al Quran untuk Sastrawan” ini hadir di tangan pembaca sebagai bentuk apresiasi kritis dari Aguk terhadap ranah sosial-budaya, agama, dan estetika yang tengah bergejolak di tengah kemelut zaman. Buku ini tersaji dengan empat bab utama, yaitu Antara Sastra dan Pesan Agama, Jati Diri dan Identifikasi Lewat Seni, Problem Tekstualitas dan Modernitas, dan Ruang Publik dan Nasib Humaniora.

Antara Sastra dan Pesan Agama berisi dua belas subbab. Kedua belas subbab tersebut yaitu “Binhad Nurrohmat dan Kembalinya Unsur Sastra Jahiliyah, Penyair yang Jatuh Cinta pada Nisan, Maulid Nabi dan Getar Cinta para Penyair, Maulid Nabi dan Kitab Puisi, Mencoba Memahami ke-Malaikatan-an Saeful Badar, ‘Mengintip’ Latar Sastra Pesantren, Penyair dan Al-Quran dalam Rekaman Sejarah, Pesan Al-Quran untuk Sastrawan, Sastra Islami, Sastra Seks; Pragmatis atau Ideologis?, Sastra Seksual dan Pembusukan Budaya, serta Sastra Islam dan Sastra Pesantren”.

Jati Diri dan Identifikasi Lewat Seni mengandung sembilan belas subbab. Kesembilan belas subbab tersebut yaitu “Ketika Puisi Mengalienasi Kita, Dari Shinigami; Melacak Denyut Cerpen Arab-Indonesia, Engkau Pergi [Ketika] Kami Belum Merdeka, Ketika Jati Diri dan Karakter Bangsa Mulai Memudar, Ketika Sastra Alpa dari Bangku Sekolah, Membaca ‘Kursi yang Malas Menunggu’, Mencoba Memahami Ke-aku-an Chairil, Menimbang Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (Scb) dari Buku Nurel: Menggugat Tanggungjawab Kepenyairan, Pendidikan Sastra dan Mental yang Sakit, Puisi-Puisi yang Membakar Perjuangan, Sastra, Kiyai dan Pesantren, Religiusitas Cinta dan Permasalahannya, Sajak Melankolisme Taufik Ismail, Sastra Arab dan Karya-Karya Goethe, Visi Sastra dan Tantangan Duni Cyber, Pertemuan Sastra dan Pasar, Penyair Tua, Penyair Muda dan Permasalahannya, dan Perihal Tersingkirnya Puisi dari Industri Buku”.

Problem Tekstualitas dan Modernitas berisi delapan belas subbab. Kedelapan belas subbab tersebut yaitu “(1849-1905) 100 Tahun Muhammad Abduh, Problematika Modernitas dan Demokrasi, Ikhwanul Muslimin Moderat; Wajah Baru Mesir, Inkulturasi Nilai Islam dalam Tradisi Padusan, Kearifan Pemimin Lokal dan Asketisme Mbah Maridjan, Ketika Fungsi Agama Tenggelam, Kesejajaran dan Perentangan Sains dan Agama, Menuju Kebudayaan Baru Itu Meniri Barat, , Militer dan Isu Global, Multikulturalisme, Islam dan Cinta Suci, Pergolakan Menemukan ‘Aku’ dalam Diri, Plato dan Pemimpin Pilihan Rakyat, Filsafat Pragmatisme-kontemporer, Revolusi Putih, Roy, Renaisans dan MUI, Perihal Kejumudan dan Studi Islam, Sejarh Lekra vs Manikebu: Hanya Intepretasi Tunggal, dan Membaca Pemikiran Adonis dalam Tsabit Wa Mutakhawil”.

Ruang Publik dan Nasib Humaniora terkandung sembilan subbab. Kesembilan subbab tersebut yaitu “As Dharta dan Sedikit Harga Mati Politiknya, Dunia dan Strategi Baru Pesantren, Ketika Buku Bukan Lagi Ilmu, Lebaran di Mesir; Sebuah Pengalaman Pribadi, Melacak Hubungan Agama dan Kesenian, Penguasa, Buku dan Peradaban, Profesi yang Terlupakan, Hanya Sebuah Karikatur, serta Tradisi Kenduren, Kearifan Lokal, dan Identitas Budaya.

Judul kumpulan esai ini diambil dari bagian pertama bab. Muatan buku ini sarat dengan kompleksitas problematika, baik dari sisi religius, sosial, budaya, kebangsaan, bahkan kesusastraan. Kesan yang tertangkap paling mutlak dan utama dari buku ini menghilir pada tindak perenungan dan permenungan para sastrawan, baru kemudian bermuara pada masyarakat baca secara umum. Hal itu ditandai dengan penyematan judul “Pesan Al Quran untuk Sastrawan” sebagai judul utama buku ini.

Dalam subjudul “Pesan Al Quran untuk Sastrawan” Aguk mereview kembali hakikat surat As-Syu’ara. Selain itu, pembahasan dalam subbab ini juga sebagai bahan introspeksi dan perenungan bagi para penyair. Aguk menegaskan bahwa para sastrawan memiliki derajat yang sangat tinggi bahkan derajatnya satu tingkat di bawah derajat para nabi.

Dalam kanca perjuangan Islam para sastrawan muslim memiliki peranan penting saat terjadi perang Muktah antara kaum muslimin melawan bangsa Romawi. Saat itu jumlah pasukan muslim sangat kecil sedangkan bangsa Romawi sangat banyak bahkan tak ada habisnya. Fenomena itu menjadikan kaum muslim ciut nyali dan terdesak nyaris kalah bahkan nabi Muhammad SAW sempat mengintruksikan pasukan untuk mundur. Tetapi Ibnu Rawaha berhasil memberikan suntikan mentalitas dan semangat juang yang tinggi kepada prajurit muslim melalui puisi-puisi patriotiknya. Berkat kobaran api semangat Ibnu Rawaha itulah akhirnya kaum muslim berhasil memukul mundur dan mengalahkan bangsa Romawi. Sejak saat itu para sastrawan muslim berhasil membawa pembaharuan terhadap sastra Arab kebudayaan secara keseluruhan.

Dalam tulisannya itu, Aguk juga mengkritisi para sastrawan dengan bertumpu pada surat As-Syu’ara yang menjustifikasi para penyair terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan. Para sastrawan yang dikatagorikan terjurumus dalam lembah kesesatan tersebut adalah mereka yang hanya mengungkapkan khayalan-khayalan yang jauh dari kebenaran, mengumbar syahwatnya melalui kata-kata berkaitan dengan cinta dan pencabulan, cumbu rayu, menyebut sifat dan tubuh perempuan dengan telanjang, janji dusta, bangga dengan ketidakbenaran, dan suka menghina sesamanya.

Tulisan Aguk ini jika ditarik satu benang merah dengan sastra Indonesia modern akan mengerucut pada sastra Indonesia yang berstyle SMS (Sajak Madzhab Selangkangan), FAK (Fiksi Alat Kelamin), Sastra Wangi, Sastra Lembab dan yang sejenis. Karya sastra yang berstyle seperti itulah yang berada dalam garis hitam kesesatan bersama para sastrawannya. Dan para sastrawan yang derajatnya satu tingkat di bawah derajat para nabi adalah mereka yang beretika, selalu mengingat Tuhan, mengajak kepada kebaikan, dan menjauhi segala kefasadan.

Melalui karya yang berjudul “Ketika Jati Diri dan Karakter Bangsa Mulai Memudar”, Aguk mengkritisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika melihat realitas bangsa Indonesia yang ada, kita seolah berkaca pada cermin yang retak. Tidak ada satu kesemprnaan yang ditampilkan dari para figur yang ada. Indonesia mengalami krisis figur ideal sehingga mengakibatkan para generasi muda anak bangsa banyak yang mengalami degradasi moral dan cenderung bermuara pada tindak penghapusan jati diri dan karakter bangsa.

Nilai luhur budaya bangsa semakin lama semakin terlupakan. Itu tidak hanya terjadi pada satu ranah melaiankan semua lapisan terjangkit firus ini. Tontonan yang tampak setiap harinya adalah ketidakstabilan sosial-politik, penyalahgunaan wewenang kekuasaan, korupsi, kolusi, dan nepotisme, meningkatnya kemiskinan dan kapitalisme, hilangnya nilai kejujuran dan integritas, menjamurnya separatisme dan radikalisme, maraknya budaya suap dan mafia hukum, terkikisnya kegotong-royongan, keramahtamahan dan kesopansantunan, serta merebaknya budaya saling tuding.

Daya magis Pancasila tampak tak bertuah. Ketuhanan Yang Maha Esa berubah menjadi keuangan yang maha esa. Kemanusiaan berganti perjuangan HAM, Persatuan Indonesia dimanifestasikan dam bentuk otonomi daerah. Kerakyatan yangdipimpin kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan diganti dengan perjuangan demokrasi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjelma menjadi perjuangan kepentingan kelompok.

Indonesia saat ini merindukan figur ideal sebagai satrio piningit. Figur ini adalah figur yang bersikap tidak menolak melainkan mengawinkan dan tidak menentang tetapi mewarnai sebagaimana sosok Syeh Malaya (Sunan Kalijaga) yang dulu pernah bersemi di negeri ini. Ia berhasil mengawinkan tradisi dengan ajaran agama. Ia berhasil menumbuhkembangkan kelegowoan hati masyarakat dengan menyebarluaskan ajaran agama Islam tanpa menghapus adat-istiadat dan kesenian daerah.

Agar bangsa ini tidak semakin terpuruk karena merosotnya moralitas anak bangsa, tonggaknya ada di tangan para pemimpin. Ia harus menjadi figur ideal yang dapat menginspirasi dan dapat dijadikan panutan oleh para generasi muda. Untuk itu para warga selakyanya lebih selektif dalam memilih seorang pemimpin bangsa. Masyarakat harus tahu karakteristik seorang pemimpin yang dapat dijadikan tuntunan dan tontonan semua orang. Kriteria pemimpin tersebut telah dinukilkan Aguk dalam “Plato dan Pemimpin Pilihan Rakyat”. Aguk mengutip konsep Plato yang menyatakan bahwa kriteria pemimpin yang ideal harus mencerminkan empat aspek yaitu memiliki pengendalian diri, keberanian, kearifan, dan keadilan.

Buku esai “Pesan Al Quran untuk Sastrawan” karya Aguk ini membahas permasaahan yang aktual di zamannya. Kritikya tegas, wawasan luas, memukul mundur sastra wangi, SMS, dan FAK. Namun terdapat sedikit kekurangstabilan. Aguk masih mengamini Chairil Anwar sebagai maestro puisi Indonesia Baru tanpa adanya justifikasi terhadap mentalitas plagiat Si Binatang Jalang. Selain itu dalam buku ini juga masih terdapat pengulangan ide pembahasan sehingga menimbulkan satu kebosanan tersendiri atau ini bisa jadi bentuk penguatan atau penegasan ide. Maklum ini juga munkin faktor pengaruh tuntutan media masa juga sebab karya-karya aguk yang terkumpulkan dalam buku ini banyak yang diambil dari karya-karyanya yang tengah terpublikasikan di media masa. Meskiun demikian, sedikit hal yang mungusik itu tidak begitu mempengaruhi kekuatan karya secara utuh. “Pesan Al Quran untuk Sastrawan” masih sebuah karya yang tidak akan kedaluarsa oleh arus zaman. Topiknya hangat dan aktual yang tak patut dilewatkan oleh pembaca yang merindukan wawasan, keilmuan, dan perenungan yang mendalam. Selamat membaca. Ada hikmah melimpah-ruah yang akan terejawantah.

Jumat, 13 Juni 2014, Lamongan, Jawa Timur.
http://sastra-indonesia.com/2014/06/memungut-jejak-figur-rahmatan-lilalamin/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com