Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

Membaca Aceh Dalam Sastra

Ahda Imran
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM sejarahnya, Aceh tak pernah sepi dari perbincangan. Mulai dari kekayaan alamnya, masa lalu yang gemilang dengan sejumlah kerajaan besar, perlawanan rakyatnya terhadap kolonialisme, masa suram di tengah berbagai konflik, hingga bencana tsunami. Seluruhnya terekam dalam perkembangan karya sastra di Aceh, mulai sejak Hamzah Fanzuri, Nuruddin Ar-Raniry, Chik Pante Kulu, hingga generasi terkini, karya sastra Aceh merepresentasikan perkembangan sejarah yang menarik, baik sejarah ihwal Aceh dan kekayaan budayanya ataupun sejarah dalam kesusastraan itu sendiri.

Satu hal yang senantiasa tak lepas dari karya-karya sastra Aceh adalah perlawanan. Karya-karya perlawanan tak hanya muncul semasa kolonialisme Belanda, ketika “Hikayat Perang Sabil” karya Chik Pante Kulu menggerakkan seluruh rakyat untuk melakukan perlawanan. Bahkan hingga hari ini, semangat perlawanan terus terasa kuat dalam karya para sastrawan Aceh, termasuk perlawanan terhadap Jakarta se…

PROBLEM UNIKUM DAN UNIVERSALITAS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Cerpen Indonesia, kini, makin menunjukkan jati dirinya sebagai bagian dari kultur keindonesiaan. Ia tidak hanya datang dari berbagai wilayah yang selama beberapa dekade seolah-olah belum terpetakan, melainkan mengada lantaran di belakangnya ada kegelisahan kultural. Kegelisahan, bahkan kepedihan dan sekaligus juga kemarahan yang datang dari berbagai macam komunitas itu, memang selama ini senantiasa ditenggelamkan oleh kejahatan sentralitas. Hiruk-pikuk yang terjadi di sana seperti dianggap senyap, padahal ia justru mewakili ungkapan hati nurani dan harapan sosio-budayanya. Ada luka budaya di belakangnya, dan di depannya, ada keinginan, hasrat, harapan untuk memberi dan menyumbangkan sesuatu bagi Indonesia.

Kejahatan sentralitas telah membunuh begitu banyak kekayaan, potensi, dan keberagaman sosio-kultural. Maka, ketika cerpen Indonesia memperlihatlkan sebuah panorama kultural yang kaya dengan berbagai keberagamannya, kita seperti diberi pen…

Sastra Feminis ala Leila

M. Arman A.Z*
http://www.jawapos.co.id/

JAUH sebelum booming sastra feminis pada 2000-an, yang bersumber dari pemahaman sastra terhadap inferioritas perempuan, Leila S. Chudori termasuk salah seorang sastrawan wanita yang lebih dulu memulainya. Itu bisa ditelisik dalam kumpulan cerpen (kumcer) terbarunya, Malam Terakhir, yang merupakan cetak ulang (revisi) setelah 1989 diterbitkan Pustaka Utama Grafiti. Penerbitan kumcer itu juga berbarengan dengan penerbitan novel 9 dari Nadira.

Malam Terakhir versi anyar berisi sembilan cerpen yang diseleksi sendiri oleh Leila. Tema-temanya masih kontekstual. Menggugah pemikiran dan kesadaran pembaca (sastra) terhadap wacana kesetaraan gender, feminisme, dan relasinya dengan norma dan kehidupan sosial, lokal, maupun global. Dalam buku itu, sebagian besar tokoh perempuan membongkar, memperjuangkan, dan menggugat hak, kedudukan, dan cara pandang terhadap perempuan.

Cerpen pembuka Paris, Juni 1988 bercerita tentang wanita Indonesia yang baru datang di Pari…

Luka Itu Mengalir Sampai Jauh…

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Membaca novel bagi pembaca bebas dan impresif, tak selalu, apalagi harus, mengejar kalimat pertama hingga terakhir hanya demi menggapai keutuhan yang serbapadu dari aneka unsur yang berhuni di dalam novel. Kadang justru bukan keutuhan itulah yang menyihirkan pesona dan mungkin juga justru bukan keutuhan itu yang sangat disengaja penulis sebagai incaran strategi estetika novelnya. Maka memaksakan keutuhan pada setiap novel menjadi sebentuk praktik penilaian yang tak adil dan melanggar kebebasan ekspresi estetik.

Sebaris kalimat singkat atau selarik ungkapan pendek yang bagus pada halaman kesekian dari sebuah novel sehingga menancap hebat dalam ingatan atau mendapat pencerahan dari bagian kecil cerita atau benang merah dari desain besar sebuah novel (bukan detail-detail kecil) pun sudah cukup meskipun ini tak selalu dapat ditemui pada semua novel.

Novel sah dianggap sebagai sepetak taman fragmentaris, bukan harus sebidang ruang integralis, tan…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com