Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Kelirunya Kaum Akademisi

Hudan Hidayat
http://karyahudan.wordpress.com/

Di penghujung tahun lalu, seakan gemas menyimak arah politik dan polemik sastra yang mengeras, seorang penyair dalam esainya meminta agar kembali kepada teks. Kembali kepada teks, artinya bukanlah menunjukkan ke depan publik “inilah saya”, seperti anggapan orang dengan polemik brutal Saut-Wowok dan Goenawan-TUK. Tetapi “inilah karya saya,” seperti yang terlihat dalam tanggapan balik terhadap Taufiq Ismail cs dalam “polemik sastra pornografi”.

Harapan penyair ini, sepintas mengandung kebenaran yang tegas. Tapi kalau kita simak lebih jauh, “inilah saya,” dan “inilah karya saya”, adalah sesuatu yang berimpit dan niscaya. Karena, “saya” berada di dalam “karya saya”. Dan saya yang sedang melakukan politik sastra atau politik tekstual sastra, bisa terjadi, atau tak bisa dilepaskan, dari “inilah karya saya”. Atau “inilah karya saya” bisa terjadi, atau tak bisa dipisahkan, dari “inilah saya”.

Kenyataan seperti itu, dimaknai Fadlillah Malin Sutan Kayo…

Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA NILAKANDI

I
Dan pagi pun resik. Menala bakti rumesik
dalam tayung-tayungan kelana
Kuhamparkan tembang anclum. Tembang alum
lamun warna bumiku tambah ungu

Kemudian satu pahala menyeru ujung-ujung
cenungan istirah sangsi
sampai sebuah sangkakala menderu

II
Bukankah biduk tak berpelita
menguasai pagi sekali, dan sekali lagi
Mengusah serapah simbah
dan akhirnya membilang syukur pada mataharu

Entah pabila suntingan saksi
seta pabila pengharapan dini
menggeliar kowar dan jentar
-penyap di ribaan Mak Tujah!
Lantas berakhir di beledru tawang-

III
Nilakandi, o bayang-baurku sendiri
tatkala alam menyatukan puuspita maya
dan di awal tepungan-keruh dan rengkuh
senantiasa kasih hadir. Mengungkai gelisah

Biar aku jadi gembala, o, dingin
dan menyembah kabut di pulungan lilih

IV
Sampai matra ke selikur lindur. Sampai daya luruh
dan alangkah jauh gapaian senandung

Seru dan sentak si bocah lurung
ditundung, diharung dan dilarung
cakrawala yang tanpa tudung

V
Begini terombang di ujung muara kita, o, Nilakandi
serta ada yang mener…

Kritikus The Bandung Spirit

Rosdiansyah
http://www.jawapos.com/

Samir Amin adalah legenda hidup. Ia tampil ke muka gelanggang pertarungan gagasan sejak empat dekade silam. Ia mengkritik keras praktik-praktik kapitalisme yang sangat keterlaluan dalam mengeksploitasi negara berkembang. Ia naik ke podium untuk menguraikan betapa jahat praktik kapitalisme predator itu, sebentuk kapitalisme yang sama sekali tidak hirau atas kepedihan dan jeritan lapar warga negara berkembang. Sang intelektual ini memberitahukan kepada kolega-koleganya, sesama intelektual peduli nasib negara berkembang, bahwa sudah selayaknya kaum intelektual negara berkembang sendiri saling bertukar pengalaman ketika berhadapan dengan agen-agen kapitalisme. Tanpa lelah, Amin berusaha menyebarkan gagasan-gagasan kritisnya itu ke seluruh penjuru dunia, mulai dari daratan Amerika Latin dan Afrika yang selalu bergejolak, sampai ke pelosok Asia.

Gagasan-gagasan itu menggumpal dalam karya-karya besarnya yang bertumpu pada perlunya kemandirian, persis seperti …

GERBONG GAGASAN MARHALIM ZAINI*

Catatan atas Antologi Langgam Negeri Puisi
Maman S. Mahayana**

Hakikat puisi adalah citraan (imagi). Dengan kekuatan citraan itulah, penyair coba membangun pesan moral, ideologi, atau apapun dalam bahasa yang kemas, padat, dan langsung. Tentu saja di dalamnya ia juga coba menghadirkan nilai estetis yang mungkin hendak ditawarkannya. Oleh karena itu, dalam puisi, penyair bergulat dalam tarik-menarik antara keinginan mengolah pesan dan menyampaikannya lewat citraan dan bahasa yang kemas-padat, tetapi juga dengan tetap memperhatikan nilai-nilai estetiknya. Akibatnya, penyair tidak punya banyak kesempatan untuk menguraikan sesuatu dengan deskripsi yang panjang atau menjelaskan perkara atau apa pun dengan uraian yang begitu terinci. Pertimbangan kehematan bahasa menjadi taruhan.

Itulah konvensi puisi. Setidak-tidaknya, citraan itulah yang menjadi salah satu ciri yang khas dan penting bagi puisi dibandingkan ragam sastra lainnya. Sebutlah sebuah kata tertentu, maka serempak dengan kata itu, pe…

KIAT UNIK MENULIS ALA MAMAN S. MAHAYANA

Sutejo
Ponorogo Pos

Tujuh tahun berkenalan dengan seseorang adalah waktu yang pendek jika jarak membentang, tetapi jadi waktu yang panjang kala hati tertali dalam hubungan guru-murid. Begitulah, barangkali hal menarik yang dapat penulis petik ketika mengenalnya. Ia selalu memberikan motivasi, mendorong etos untuk berbuat, dan tak jarang “memberi” pujian. Begitulah selalu. Tetapi tidak jarang, lelaki itu langsung memberikan kritik ketika ada kekurangan yang menurutnya adalah kelemahan.

BERKACA MENULIS DARI NUREL

Sutejo
Ponorogo Pos

Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya.

LAMONGAN BERTERIAK LEWAT SENI DAN SASTRA

Imamuddin SA

Lamongan! Mungkin nama ini terlalu tabu di tengah-tengah semua gendang pendengaran anak manusia. Atau bisa jadi anda akan mengerutkan dahi dan bahkan merasa takut ketika nama tersebut disebut. Ya, bagi saya itu wajar. Kota kecil yang terletak antara kota pudak Gersik dan kota Bojonegoro ini memang pada mulanya dipandang sebelah mata oleh kota-kota lain di sekitarnya. Kota yang belum memiliki talenta lokalitas yang mampu menyuarakan namanya di kanca perkembangan zaman. Namun, menjelang peristiwa peledakan bom di Bali, nama kota ini berkibar di ujung daun. Entah pada waktu itu daunya tergerogoti ulat atau daun hijau muda yang segar. Yang jelas, kebanyakan orang yang mendengar nama Lamongan, hati mereka akan nggiris, ciut, dan takut. Mereka saling mengasumsikan akan betapa kerasnya jiwa-jiwa orang Lamongan. Tapi tidak apalah, yang penting sudah terkenal bahkan secara internasional. He....he....he...

Entah apa yang terjadi? Semenjak peristiwa peledakan bom itu seolah-olah hat…

Ketika Korona Matahari Membunuhku

Dian Hartati
http://sudutbumi.wordpress.com/

Matahari tidak terlalu panas siang ini. Entah mengapa itu terjadi padahal saat ini adalah musim kemarau. Jalanan tidak begitu terik seperti kemarau tahun lalu, pohon-pohon pun seakan diam tidak terlalu sibuk membuat klorofil-klorofil. Yah, apa mau di kata mungkin itu pengaruh penduduk bumi yang terlalu apatis dengan masalah lingkungan hidup.

Angin berhembus dan menerbangkan daun-daun yang gugur ketanah. Barisan semut hitam tampaknya sibuk bekerja tanpa diperintah. Mengangkut remah-remah yang entah diambilnya dari mana. Masuk ke dalam gundukan tanah yang sepertinya telah mereka buat sendiri mencapai dasar tanah. Tak ada beban bagi semua semut-semut pekerja itu, semua diam dalam kesibukannya.

Langit tetap biru dengan gemawan yang terus berarak mengikuti pola angin yang membawanya. Gurat-gurat membentuk simbol di angkasa. Langit yang selalu saja bersahaja tanpa kebingungan memikirkan apa yang ada di bumi. Tak lama setelah gemawan pergi peri-peri c…

Pertalian Minat Baca, Harga Buku, dan Daya Beli

Jawa Pos, 05 Okto 2008
Agus M. Irkham*

Dahulu mana, ayam atau telur? Pertanyaan itu yang bakal muncul, ketika kita mencoba menghubungkan antara minat baca, harga buku, dan daya beli. Pada pembaca buku berlaku demikian: minat baca tinggi tidak serta merta daya beli tinggi. Dalih klise harga buku mahal. Mendapatkan sangkaan itu, penerbit pun berkelit, bagaimana mungkin harga buku bisa murah, karena pengorbanan ekonomi masyarakat untuk memperoleh buku alias daya beli terhadap buku rendah. Belum lagi harga kertas yang terus-menerus naik dan pengenaan pajak buku. Sehingga penerbit terpaksa mencetak buku dalam jumlah yang tidak efisien. Karena tidak efisien, harga pokok produksi jatuhnya jadi tinggi/mahal. Sudah begitu, buku yang dicetak belum tentu ludes dalam setahun.

Menariknya, ketika suatu buku laris (bestseller), sehingga proses produksi berlaku sangat efisien, tidak menyebabkan harga jual buku lalu menjadi murah, atau minimal lebih rendah dibandingkan dengan harga buku cetakan pertama. …

SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=215

Sebelum jauh tulisan ini melangkah, ingin menyapamu terlebih dulu;
apakah mimpi perlahan mulai sirna, oleh sorot matahari menempa jiwa,
entah masih ada, malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa (X: I).

Yang datang terlambat tak seharusnya menghakimi sebelumnya
dengan ketentuan membuta, ingatlah bunga-bunga rontok sebelum mekar,
nalar mentah keluar terlalu dini, reranting menunggu lebat sayapnya (X: II).

Angin tanggung mempermainkan awan mengusir kabut pegunungan
sebinar fajar meremukkan tembang dangkal, terkumpulnya ragu segenggaman
melebihi lebatnya pepohonan di bukit barisan, kala hujan menderas
membasuh buah asam Jawa, rontok terhempas ke sebrang (X: III).

Bagaimana bimbang di belantara, sedang ia menerobos ilalang?
Dahan keras kan patah, yang terus melaju temukan makna tiada terkira
bagi penyetia takkan kecewa, dipenuhi kebutuhannya (X: IV).

Terpontang-panting diayun bayu membelah laut tenggelamkan gelisah,
perahu keyakinan ia tumpangi r…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com