Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

DD

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

Orang kelahiran Pasuruan itu selalu mengingatkan saya apa arti sebuah tanah air. Ia Ernest Fran├žois Eugene Douwes Dekker. Ia mengingatkan apa arti Indonesia bagi saya.

Sekitar akhir Juli 1913 ia disekap di sebuah penjara di Jakarta Pusat. Waktu itu umurnya 33 tahun. Pemerintah kolonial menuduhnya telah ”membangkitkan rasa benci dan penghinaan terhadap pemerintah Belanda dan Hindia Belanda”. Tuduhan itu tak benar; tapi ia memang tak menyukai kekuasaan itu, yang, seperti dikatakannya kepada para hakim kolonial, bertakhta ”di negeri kami ini, di bumi orang-orang yang tak menikmati kebebasan”.

Dari sebuah berita acara yang bertanggal 11 Agustus kita tahu apa yang ia perbuat sebenarnya. Partai politik yang didirikannya, ”Indische Partij”, tak diakui sebagai badan hukum. Tapi Douwes Dekker terus menulis dalam surat kabar De Expres dan lain-lain sejumlah artikel yang oleh Residen Betawi, yang menginterogasinya hari itu, dianggap ”melanjutkan membu…

Sepotong Cinta dan Senyum Rupiah

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

“APAKAH kamu bosan hidup, anakku?” getar suara Biru Langit tahu kesedihan putranya. Dia datang tiba-tiba entah menerobos dari pintu sebelah mana.

“Tidak, Ibu. Bagiku justru sebaliknya, hidup musti bertaruh udara bersih dan air jernih. Emosi cuma tetenger kita tak bisa berpikir, dan itu berarti keblinger” Biru Langit mengumbar tegar.

“Saudaramukah yang kau maksudkan?” ibunya terpecik Biru Langit.

“Bu, telah kukatakan kebebasan itu musti memeras otak dan pikiranan, bukan emosi. Apa hendak dikata bila saudaraku tak menyerap isi ucapanku. Dari ucarannya ‘kalau begitu caramu aku kalah’ itu cukup bagiku merangkum simpul dia ingin menang sendiri. Mau unggul tanpa peduli bagaimana cara dan jalan mana. Dia tidak bicara soal kebenaran. Dia bicara tentang kepentingan sendiri. Berkali-kali ibu dengar saudaraku penganut antiintimidasi, tapi di sisi lain justru telah dia kukuhkan cara,” Biru Langit kian pedih.

Dia terpaksa mengeryitkan dahi karena ini masalah terpe…

BELAJAR MENULIS DARI EKA KURNIAWAN

Sutejo
Ponorogo Pos

Dalam gagas utama MataBaca, edisi September 2005 (hal. 10-11), salah satu penulis muda produktif dan banyak mengolah cerpen yang berangkat dari obsesi tertentu, rajin membuat catatan perjalanan atau penelitian sederhana. Pengarang ini adalah Eka Kurniawan. Di samping itu dia berpesan kepada kita begini (a) menulislah tentang hal apa saja yang kau ketahui dan (b) naskah yang ditolak dapat kita otak atik lagi, diedit lagi, kemudian dikirimkan ke media yang lain.

MEMANDANG OMBAK DALAM GELAS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Minggu waktu duha. SMS seperti hujan. Aku baru saja menikmati gelombang ombak dalam gelas: sebuah tanggapan dari orang tak dikenal atas tulisanku di Media Indonesia Minggu. Ia cukup lihai cari popularitas dengan memanfaatkan ide pihak lain. Tak ada informasi baru di sana. Kulihat burung pipit lahap mengisap bunga benalu. Sebuah SMS masuk lagi: “Itu pseudo!” Mungkin, pikirku sambil mengingat sejumlah artikel Lekra awal tahun 1965-an.

Telepon berdering. Anakku berteriak, “Ayah, dari Payakumbuh!”
Aku bergegas. Menarik gagang telepon. O, Gus tf Sakai! Sastrawan Minang yang sangat santun ini menanyakan kiriman karya terbarunya, Tiga Cinta, Ibu; sebuah novel tipis yang di sana-sini tersembul semangat eksperimentasi. Rupanya, Sakai masih sangat setia pada kegelisahan kulturalnya, seperti juga tampak dari sejumlah cerpennya. Minang memang sarat problem. Dan ia memanfaatkan kekayaan kulturalnya lantaran ia bernafas dan hidup di situ. Aku memahami …

Puisi-Puisi Bambang Kempling

...Malam Terkesiap Buat Fana

sudah cukup kiranya
kau mendekam di selembar angin
burung malam terkesiap buat fana

cobalah kau untai kembali igaumu
tentang malam yang mangambang
di perempatan jalan
ia berpendar di kurung lingkar cahaya
lampu jalan.

5 Juni 2008



Kelopak Kembang Pilar Teras Rumah

merekah di antara
daun-daun berdebu
ia menangkap bulir-bulir cahaya
dari secarik kabar
tentang rahasia untuk nama-nama
yang telah diagungkan

”kau dengar siulan itu?” katanya.

Angin lembut kemudian menjentik-njentik sukma

adakah kau telah menikmati
mimpi yang telah kau curi darinya?
:mimpinya tentang jalan berayun
buat kereta pada taburnya
mimpinya tentang helai-helai warna
yang terbang saat hening

ia merambat sampai setapak jalan berbatu.

13 Juni 2008



Bertandang Kepada Angin

senja,
bertandang kepada angin
riak menepi dan singgah sebentar
melukis debur ombak

di atas hamparan pasir kelabu
jejak-jejak mengabur dalam surut
bagaikan langkah yang terhempas
menuai rintik rintih langit pualam
kepadanya,
lalu kau titipkan kabar buat laut
bahwa…

Sastra Perlawanan

Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejarah sastra, entah Tanah Air atau pun Barat, tidak dapat berdiri jauh dari rangka sejarah umum, terutama sejarah kekuasaan. Di Jawa, konon karya sastra terlahir dari para pujangga keraton dan pujangga liar, yang keduanya berkubang dalam tema pemerintahan para raja. Pujangga keraton dengan pengagungannya terhadap raja. Misalnya Serat Centini atau Serat Kalatida. Pujangga liar dengan karya yang mengkritisi pelaksanaan pemerintahan raja. Misalnya Serat Darmogandul karya Kalamwadi (penulis yakin ini bukan nama sebenarnya, kalam berarti ”berita” dan wadi berarti ”rahasia”).

Atas fakta sejarah itulah, kiranya berbagai tulisan mencari singgungan yang pas antara sastra dan kekuasaan. Penulis beranggapan, tulisan-tulisan tersebut dicipta bukan sebagai kebenaran paten. Artinya, telah dibuka undangan untuk bertukar pikir dan argumentasi tentang sastra, dengan pijakan karya sastra tentunya.

Tradisi karya sastra punya keterkaitan dengan tradisi kekuasaan,…

Pesona Keempat Sutardji Calzoum Bachri

Asarpin*
http://www.lampungpost.com/

SEJAUH ini, lebih dari lima puluh ulasan tentang puisi Sutardji Calzoum Bachri (selanjutnya ditulis Tardji). Namun, di antara yang banyak itu, saya melihat jarang sekali sajak-sajak Tardji pasca-O Amuk Kapak (1981) mendapat perhatian.

Mungkin karena puluhan sajak mutakhirnya itu belum dibukukan, hingga perhatian kritikus masih tetap pada sajak-sajak lama. Arif Bagus Prasetya memang sempat menyinggung puisi-puisi Tardji terbaru sedikit membandingkan dengan sajak-sajak sebelumnya hingga Arif sampai pada kesimpulan bahwa sajak-sajak lama Tardji menampilkan "sajak aksi" dan sajak-sajak terbarunya menggemakan "sajak saksi"--sebuah kesimpulan yang hemat saya masih perlu diperdebatkan.

Puluhan puisi terbaru yang ditulis Tardji sangat padat menggunakan kalimat dengan kejutan estetik yang mencengangkan. Di antara puisi terbarunya saya sempat menyimpan puisi La Nosche De Las Palabas, Tanah Air Mata, Berdepan-Depan dengan Kakbah, Idulfitri, Ce…

Kekalahan Kita terhadap 'Post-Modernism'

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

"Ada yang tertinggal di dalam dunia post-modernism," ujar David Legman (2003). Artikel yang ditulisnya pada News Week edisi Maret tahun yang sama semakin mengingatkan kita tahu bahwa post-modernism yang diusung secara kultural oleh agamawan, politisi, dan cendekiawan ternyata melahirkan bangsa yang rendah. Indonesia-lah yang mungkin terakhir kali sebagai suatu bangsa dikoloni oleh bangsa-bangsa lain.

Hal tersebut sebagai preseden buruk dari ketidakberhasilan post-modernism dan korelasinya terhadap pemimpin di negeri ini. Setiap orang kemudian menjatahkan dirinya pada "jatah hidup" yang tidak jelas. Miskin kota bertambah 27%, di desa hampir 2 kali lipatnya. Sementara itu, pemimpin kita yang mendambakan post-modernism dengan tidak berbuat apa-apa kecuali menulis, menjadi staf pengajar, pelaku budaya, birokrat gagal, seniman tanggung, dan wartawan bodrek.

Alkisah, post-modernism lahir di Indonesia pada era non-violent movement (ger…

Hantu, Perempuan Sundal, dan Kebohongan Bramanto

Fakhrunnas MA Jabbar
http://www.lampungpost.com/

Akulah hantu itu. Tertiup angin aku datang ke pulau yang mulai gemerlapan ini. Tersebab lupa, aku tak tahu darimana aku tiba. Aku bisa berumah di awang-awang atau berhimpun dalam gemuruh hujan dan petir. Tak usahlah aku berterus-terang ihwal asalku. Orang-orang Melayu kebanyakan agak berpantang membincangkan soal itu. Kecuali, para batin dan bomoh yang sewaktu-waktu bisa saja memanggilku tanpa surat perintah sekali pun. Aku hanya takluk pada mantera dan bacaan gaib serta bau-bauan kemenyan atau ramuan kembang para batin atau bomoh tadi.

Oleh karenanya, aku bisa diperalat oleh siapa saja yang mengimpikan suatu pengharapan dan cita-cita. Ya, aku mengalir dalam takhayul-takhayul orang kesurupan akan harta dan jabatan. Maaf, tak mungkin aku berterus-terang siapa saja yang pernah menggunakanku untuk mencapai ambisi-ambisi pribadinya. Sssttt...off the record-lah gitu...!

Seperti angin dan bau-bauan, aku pun bergentayangan begitu saja di pulau ini…

Prosa Rumah: Referensi dan Representasi

Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/

Rabindranath Tagore dalam novel The Home and The World mengisahkan politik, cinta, nasionalisme, ideologi kelas, dan kolonialisme. Tagore dalam novel itu mengonstruksi rumah dengan pandangan liris dan menegangkan. Rumah menjadi metafor untuk manusia dan negeri India yang merumuskan diri pada awal abad XX dalam kuasa kolonialisme Inggris dan modernitas.

Rumah berbeda dengan dunia (luar rumah). Rumah identik dengan runag (kurungan) yang tidak memberi kebebasan. Dunia identik dengan kebebasan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicari dan ditemukan. Tokoh Bimala berada dalam tegangan untuk lari dari rumah dan hadir di dunia atau menghidupi rumah dengan kesetiaan dan pembebasan diri yang menganut konvensi. Bimala sebagai perempuan sadar tradisi dan sadar pandangan politik-intelektual yang membebaskan dengan risiko besar. Rumah dan dunia adalah tragedi.

Rumah dan dunia dalam novel Tagore adalah kisah kekacauan dan ketertiban, politik radikal dan po…

Spirit Perlawanan dalam Sastra 'Post'- Kolonial

http://www.lampungpost.com/
Judul: Post-Kolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra
Penulis: Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: xii + 450 halaman
Peresensi: Fatkhul Anas

MEMBUKA kembali ragam file ingatan tentang zaman kolonialisme di Indonesia merupakan hal "berani". Sekali membuka berarti siap dengan kisah-kisah dramatis seputar penderitaan bangsa. Kelaparan, kerja paksa, pembodohan massal, penganiayaan, pembunuhan secara sadis adalah pemandangan yang lazim. Perbudakan, gundik, serta pemungutan pajak secara paksa tak luput pula menjadi sejarah yang memilukan. Kekalahan bangsa Indonesia memaksa mereka tunduk dalam kekejaman, menikmati kesengsaraan, dan terpenjara dalam kebodohan. Tidak sedikit pun bangsa ini dibiarkan menikmati indahnya kehidupan, kecuali segelintir orang. Orang-orang itu adalah mereka yang patuh dengan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.

Zaman kolonialisme memanglah menjadi "abad penggelapa…

Mementaskan Perlawanan

Amanda Stevi
http://mediaindonesia.com/

Jika ada yang bertanya teater itu apa, banyak jawaban yang akan muncul. Teater adalah seni peran. Teater adalah seni artistik. Teater adalah tempat menyalurkan aspirasi dalam bentuk lakon dan sebagainya. Bagi Teater UI, teater adalah perlawanan.

Sastra dan perlawanan. Dua hal tersebut tampaknya berbeda, tapi ternyata memiliki hubungan yang erat. Hubungan itu terutama tampak dalam dua abad terakhir. Beberapa karya sastra dalam kurun waktu tersebut memuat ide perlawanan penggagasnya, diilhami kondisi dan situasi sosial di sekelilingnya.

Salah satu karya sastra lama yang memuat unsur perlawanan adalah Max Havelaar karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, seorang pria berdarah Belanda. Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda berkisah Max Havelaar, seorang idealis yang sempat menjadi asisten residen di Lebak. Novel tersebut begitu fenomenal sehingga mengguncang dunia saat itu. Max Havelaar pun membangunkan kesadaran manusia dan beberapa t…

Rumah Duka

Ratih Kumala
http://cetak.kompas.com/

Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.

Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.

”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.

Kami segera mengurus segala hal untuk kremasi. Rumah duka kami booking. Rangkaian bunga duka cita dari kolega-kolega suamiku mulai berdatangan. Hari ini, mayatnya dirias, sebelum diistir…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com