Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Negeri Para Pemburu

Teguh Winarsho AS
http://www.kr.co.id/

“AKU TAKUT melihat perang, darah dan kematian,” katanya pada suatu hari saat jalan raya menjelma hujan batu dan kobaran api. Langit menjadi lebih merah. Udara pengap meruap anyir darah. Ia lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi para serdadu itu terus memburu sembari menggenggam senapan dan pentungan kayu. Melempar gas air mata dan juga batu. Mata mereka nyalang, berkilat, seperti menyimpan belati. Membuat ia ketakutan setengah mati seperti dikejar-kejar sekelompok mummi.

“Apakah yang salah dengan sejarah?” ia menggumam satu pertanyaan saat berhasil menyelinap masuk ke dalam sebuah rumah kosong mirip gudang dekat jembatan. Rumah tua dengan jendela-jendela lebar berjeruji besi hitam berkarat dan lantai cokelat. Atapnya kereopos penuh sarang laba-laba. Juga puluhan tikus saling berkejaran, berdenyit-denyit meruap bau selokan. Membuat perutnya mual mau muntah. Tapi ia sangat letih, menyandarkan punggungnya yang…

Tawur

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Luruh Indon memerah ketika tersulut kobaran amarah purba. Orang-orang sibuk mengamati. Menunggu sepasukan bala gempur dikeluarkan dari barak kelurahan. Para orang tua memandang udara dengan mengambang. Mereka masih ingat bagaimana dulu panji-panji dikeluarkan. Diarak-arak ke alun-alun untuk mendengarkan semangat tutur Lurah pertama yang diangkat sebagai raja pertama.

Di tengah ramainya kemarahan itu, Dhimas Gathuk menemukan Kakangnya di halaman belakang sedang membelah bambu kering. Dhimas Gathuk tersenyum lalu secepatnya datang membantu. Dia teringat untuk membenahi pagar rumah yang lapuk. Seringkali, dia menemukan tetangga lewat pagar rapuh itu. Dhimas Gathuk betapa jengkelnya, saat si tetangga yang lewat sering tanpa aturan sampai merusakkan mawar yang di dekat sana. Kini, Kangmas Gothak membelahi bambu. Membuat hati Dhimas Gathuk senang.

Berlajur-lajur bambu Dhimas Gathuk angkati dari kebun sebelah. Kebun Dalem Gothak-Gathuk yang lain. Kang…

Cermin

Agus B. Harianto
http://www.sastra-indonesia.com/

Cermin itu telah retak. Retakannya membentuk garis tak beraturan. Layaknya pantulan petir menyambar pepohonan. Sebuah garis tak beraturan memisahkan dua sisi retakannya. Dari pojok kanan atas. Memecah keutuhan cermin hingga kiri bawah. Tak ayal lagi, bias sebelah kanan menjadi lebih tinggi. Cermin itu layak tak terpakai. Seharusnya dibuang. Untuk mengaca pun, cermin itu terasa kurang pas. Apalagi mengamati pantulan kekurangan riasan diri.

Cermin itu kubeli tiga bulan lalu. Tukang loakan yang kebetulan lewat membawanya. Tawar menawar pun terjadi. Hasil akhir dicapai. Sebuah cermin untuk menghiasi kamar. Pelengkap ruangan tempat melihat-lihat diri. Dan kala ingin keluar, tiada lagi perasaan kekurangan dengan dandanan.

Aku melangkah tergopoh melawan kejamnya waktu. Tak pernah kudapati ia mau berhenti dan tak pernah dapat mengerti. Terlambat bangun adalah kebiasaan yang tak mampu kupatahkan begitu saja. Saat begadang semalaman menjadi idaman s…

Krisis Kepenyairan Kita

Ribut Wijoto
http://www.sastra-indonesia.com/

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, telah terjadi krisis kepenyairan di tanah air kita. Banyak sekali bentuk-bentuk puisi yang sebelumnya pernah berkembang, kini, mengalami kemacetan. Padahal bila dikembangkan, bentuk-bentuk puisi itu akan menemukan kemantangannya yang baru.

Pertama, bentuk puisi balada seperti yang dikembangkan WS Rendra. Kedua, bentuk puisi mantra seperti yang dikembangkan Sutardji Calzoum Bachri. Ketiga, bentuk puisi lugas tetapi mengandung filosofi mendalam seperti yang dikembangkan Subagio Sastrowardoyo. Keempat, bentuk puisi kosmopolitan seperti yang dikembangkan Afrizal Malna. Kelima, bentuk sufi seperti yang dikembangkan Abdul Hadi WM. Keenam, bentuk puisi protes sosial seperti yang dikembangkan Wiji Thukul. Ketujuh, bentuk puisi mbeling seperti yang dikembangkan Remy Sylado. Sungguh disayangkan, tidak ada penyair tanah air kita yang secara intens mengembangkan ketujuh bentuk puisi itu.

Kita semua tahu, bentuk puisi …

Sastra dalam Basis Orientasi dan Komitmen Estetika Lokal*

Satmoko Budi Santoso
http://satmoko-budi-santoso.blogspot.com/

WACANA desentralisasi komunitas sastra kembali menggemuruh pada awal tahun ini. Marwanto, Ketua Komunitas Lumbung Aksara Kulonprogo Yogyakarta membebernya dalam esei yang berjudul Temu Sastra Tiga Kota (Harian Kedaulatan Rakyat, 13 Januari 2008) lalu. Sayang, cuatan pikiran Marwanto hanya sebatas paparan pemetaan sastrawan yang ada di tiga kota, yakni Yogya, Kulonprogo, dan Purworejo. Selebihnya, hanya menyinggung sedikit tentang kemungkinan potensi yang bisa dikembangkan dari kegairahan bersastra yang ada di kota-kota tersebut.

Dalam khazanah dinamika sastra Indonesia, wacana desentralisasi sudah terlalu sering muncul. Sekadar kilas-balik, yang fenomenal adalah perbincangan mengenai revitalisasi sastra pedalaman yang berhasil menembus pasar isu nasional pada era pertengahan 1990-an. Karena polemik yang berkembang pada masa itu, sejumlah sastrawan dan karya-karyanya yang bernilai “lokal” menjadi terdongkrak dan ikut mendomina…

Sebuah kompleks besar

SEKS, SASTRA, KITA
Kumpulan Esei Goenawan Mohamad
Penerbit Sinar Harapan,
Cetakan I, 1980, 173 halaman
Peresensi : Th. Sumartana
http://majalah.tempointeraktif.com/

SASTRA Indonesia modern lahir dari induknya yaitu nasionalisme. Ia lahir dan dibesarkan bersama dengan anak-anak nasionalisme yang banyak. Pendidikan, institusi keagamaan, kegiatan sosial, ideologi, birokrasi, partai politik dan lain sebagainya. Ia turut merasakan kesakitan beranak bagi lahirnya suatu bangsa. Ikut pula berpasang surut bersama dengan peri kehidupan bangsanya. Ia merupakan bagian integral revolusi suatu bangsa yang menerobos keluar dari kungkungan isolasi masyarakat sukunya dahulu, dan dari penindasan bangsa lain.

Jelas, bahwa para pendukung sastra Indonesia modern adalah species yang bernama homo Indonesiensis. Dan sebagaimana persoalan yang dihadapi oleh gerakan nasionalisme di Indonesia, maka sastra Indonesia modern pun berada di sebuah jalan simpang tiga. Yaitu internasionalisme, nasionalisme dan daerahisme.

Sej…

Melayu, Puisi, Mantra

Jamal D Rahman*
http://cetak.kompas.com/

Usaha merevitalisasi kebudayaan Melayu akhir-akhir ini berlangsung cukup marak, terutama di Riau. Berbagai kegiatan berkaitan dengan usaha menghidupkan atau menyemarakkan kembali kebudayaan Melayu kerap dilakukan, mulai dari penerbitan buku, festival, seminar, sampai pemberian penghargaan kepada individu-individu yang memainkan peran tertentu dalam memajukan kebudayaan Melayu.

Semua itu jelas menunjukkan adanya kesadaran generasi Melayu kini akan kebesaran kebudayaan mereka dan pentingnya menjaga kesinambungan kebudayaan Melayu itu sendiri kini dan esok, bahkan juga memajukannya sampai pada tingkat yang membanggakan, seperti telah dicapai kebudayaan Melayu pada masa silam.

Salah satu unsur penting dari kebudayaan Melayu tentu saja bahasa Melayu. Ini bukan saja karena bahasa Melayu sejak berabad-abad silam merupakan lingua franca di kawasan Nusantara, melainkan terutama juga karena corak atau watak yang memang inheren dalam bahasa Melayu itu sendiri…

Berhenti untuk Meneguk Kopi

Ignatius Haryanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada kebiasaan tak lazim yang ditekuni penulis cerpen Hamsad Rangkuti di rumahnya di kawasan Depok, Jawa Barat. Di dalam kolam ikan yang airnya menggenang sebatas pinggang, pria 60 tahun itu setiap hari berendam badan. Kadang hanya beberapa menit, tapi tak jarang hingga berjam-jam. Tak jelas apa yang dilakukannya: mungkin untuk mengademkan badan, barangkali juga untuk mencari ilham bersama ikan mas yang berenang di sela-sela kakinya.

Di rumah yang didiaminya selama 25 tahun itulah Hamsad menggali ide untuk cerpen-cerpennya. Dua pekan lalu kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot, mendapat anugerah Khatulistiwa Award—penghargaan tahunan untuk buku fiksi bermutu.

Tak tanggung-tanggung, Hamsad mendapat hadiah Rp 70 juta untuk kemenangannya itu. “Saya belum cek rekening bank saya. Sudah dikirim atau belum, ya? Dua hari lagi saya akan cek bank saya,” katanya enteng. Di dekat meja telepon di ruang tamu rumahnya, ia memajang plakat penghargaan i…

Repotnya Menulis Berdasarkan ‘Mood’

Eddy Flo Fernando
http://umum.kompasiana.com/

“menulis atau apapun karya yang berasal dari dalam, sangat bergantung pada suasana hati”

Sebulan yang lalu seorang teman mengirim pesan elektronik kepadaku. Dalam surat elektronik tersebut, dia meminta kesediaanku untuk memberikan komentar pada blognya. Maklum blognya baru dibuat dan dijadikan semacam tempat curhat antara dia dan temannya. Aku senang ternyata temanku itu diam-diam menekuni dunia tulis menulis. Buat temanku, menulis di blog pribadi hanya sekadar selingan dari mumetnya pekerjaan sehari-hari di kantornya. Dari beberapa postingan, aku paham kalau temanku itu memiliki banyak minat dan ingin segera dituangkan dalam bentuk tulisan. Saban kali aku mengunjungi blog, aku membaca sekitar empat postingan berupa kegelisahan, kekaguman dan kesannya terhadap banyak hal yang dilihat dan dialaminya. Sebagai teman, aku selalu mendukungnya untuk tetap menulis. Namun belakangan ini, jumlah postingannya masih belum bertambah. Setelah aku menanyak…

Jembatan Merah

Danarto
http://www.jawapos.com/

Setiap tanggal 10 November kami berbondong datang dari berbagai kota untuk berziarah ke Taman Makam Pahlawan Surabaya di mana ”Bidadari November” kami kuburkan. Kami, berikut keluarga kami, berdoa penuh khidmat di kuburan seorang perempuan, pahlawan kami, yang sesungguhnya tak kami kenal yang kedudukannya sangat misterius sampai kami beranak-pinak di berbagai kota besar dan kecil di seantero pulau Nusantara ini.

Dewi ini, siapa pun dan apa pun namanya, tanpa sengaja atau disengaja, telah menyelamatkan nyawa kami, tujuh pejuang, yang sebenarnya tak cukup berjuang, punya banyak alasan untuk menghindar dari pertempuran karena tak punya peluru cukup, yang sesungguhnya tak punya keberanian cukup.

Hati orang siapa bisa menduga, bahkan Tuhan pun tidak (nah, ada gejala murtad). Tapi Tuhan tak bisa ditanya. Kita hanya bertatap wajah dengan diam. Ruang lengang, waktu pun beku. Tak bisa kita memaksa kalender bicara karena ia sudah banyak berujar tentang hari-hari penu…

PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATRA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pertemuan penyair se-Sumatera (Aceh, Babel, Bengkulu, Jambi, Kepri, Lampung, Riau, Sumbar, Sumsel, Sumut) di Bengkalis, 17—19 Januari 2003, memperlihatkan, betapa sesungguhnya Sumatera masih menyimpan potensi yang kaya dan berlimpah. Kepenyairan Sumatera yang pernah mendominasi perjalanan sastra Indonesia sebelum dan awal merdeka –seperti yang pernah dibangun sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, hingga ke nama-nama Taufiq Ismail, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, dan sederet panjang nama lain—sangat mungkin kini akan bangkit kembali.

Empat skenario mungkin dapat dijalankan penyair Sumatera. Pertama, melakukan perlawanan dan mencoba menyeruak di antara kemapanan sastrawan di luar Sumatera. Kedua, bergerak menghimpun kekuatan guna membangun mazhab sendiri. Ketiga, seolah-olah “menafikan” Jakarta dan berorientasi ke Singapura atau Kuala Lumpur. Keempat, menjalankan semua skenario itu dengan mengusung kultur etni…

Goenawan Nilai Pram Egois

Diskusi Sastra Karya Pramudya
Syarifudin
http://www.suarakarya-online.com/
baca ini http://www.sastra-indonesia.com/2010/06/pertukaran-pendapat-antara-goenawan-mohamad-dan-pram/

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer telah meninggal dunia, 30 April 2006 lalu. Jasadnya pun telah dikebumikan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Bagaimana dengan karya-karya sastra yang telah dilahirkannya? Apakah ikut “terkubur” seiring meninggalnya novelis kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu? Jawabnya, “Tidak!”

Pramoedya tak hanya melahirkan anak rohani berupa karya sastra, tapi anak rohani lainnya. Mereka adalah yang dianggap sepemikiran bahkan merasa senasib dengan Pram - panggilan akrab pria dengan 8 anak dan 7 cucu ini.

Bagaimana pula dengan sikap orang-orang yang berseberangan dengan Pram? Konon, tak sedikit orang yang kesal pada Pram, tak terkecuali para manikebuis seperti Taufik Ismail dan Goenawan Mohamad. Taufik Ismail bahkan sengaja mengeluarkan buku bermantel merah dan menyebut-nyebut nama Pram tak ubahnya…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com