Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

MELAGA EMPU, MENDENYUTKAN ILMU

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Seorang sahabat, baru-baru ini mengenalkan suatu istilah baru :Workaholisme. Apa pulakah itu? Teman kita menjelaskan yang dimaksudkan adalah “keranjingan kerja”, atau tegasnya kita dikendalikan oleh dorongan nafsu kerja, di mana keseimbangan sikap-kerja itu membuat orang jadi tanpa-daya. Dikatakan, kerja adalah merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Dengan bekerja, kita memang dapat memperoleh berbagai manfaat, seperti : imbalan materi, rasa berguna dan kesempatan pergaulan yang relatif luas. Gejala normal demikian tak usah dimasalahkan, tentunya. Yang jadi soal, jika penderitaan keranjingan kerja ini, melepas kesibukan saja merupakan siksaan, dan dia tak bisa menghentikan kegiatan kerjanya. Kalau dipaksa mengaso, warkohalisme akan merasakan stress, depresi, dan sampai tidak bisa tidur (insomnia), karena, kerja baginya adalah obsesi yang berada di luar kontrol diri, seraya menyebut gejala ini, saya malahan teringat akan kaum perempu…

Mencegah Kepunahan Bahasa Ibu

Mahmud Jauhari Ali
www.tulisanbaru-mahmud.blogspot.com

Masih ingatkah Anda bahwa setiap tahun di Indonesia selalu ramai diperingati hari Ibu oleh bangsa Indonesia, baik di kota besar maupun di pedesaan. Di televisi pemerintah dan televisi-televisi swasta sering dimunculkan acara peringatan tersebut dengan serangkaian kegiatan yang pada intinya menghormati kaum ibu di Indonesia. Akan tetapi, dalam hal ini saya tidak sedang membahas hari ibu tersebut. Memang ada kaitannya dengan kata ibu, namun yang ingin saya bahasa adalah masalah bahasa ibu di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya, terdapat tujuh ratus empat puluh enam bahasa ibu di Indonesia. Bahasa Banjar termasuk salah satu bahasa ibu tersebut.

Bahasa ibu dapat pula kita artikan sebagai bahasa yang kita peroleh petama kali di dunia ini. Misalnya, bahasa yang pertama kali diperoleh orang-orang Banjar dari ibu kandung atau ibu angkat mereka masing-masing adalah bahasa Banjar. Bahasa Banjar dipa…

Menulis Ulang Sebuah Proses Menulis Puisi

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

ALHAMDULILLAH laman Mata Kata bisa kembali hadir ke hadapan Anda pada Selasa ketiga, April 2011. Dalam kesempatan kali ini, redaksi memilih puisi yang ditulis oleh penyair Ardi Mulyana Haryadi (Garut) dan Moh. Ghufron Cholid (Madura) dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dalam puisi yang ditulisnya, Ardi menuliskan pengalaman batinnya lewat gaya ungkap haiku dengan pola 5-7-5 suku kata pada setiap lariknya. Menulis puisi haiku sebagaimana dikatakan para pakar, atau setidaknya sebagaimana yang pernah saya dengar dari almarhum Wing Kardjo, adalah penulis sebuah pengalaman puitik dengan kalimat yang ringkas dan padat. Di dalam kalimat yang demikian itu, pikiran dan perasaan (hati) harus menyatu, dan tidak terpecah belah.

Puisi Ardi yang diberi judul Ya setidaknya tengah membicarakan tentang hidup dan kehidupan itu sendiri yang berada dalam dua titik pilihan, ya atau tidak dalam pengertian yang seluas-luasnya. Dalam dua titik pilihan ini…

Merevolusi Bangsa dengan Kekuatan Bahasa

Fajar Kurnianto *
Lampung Post, 26 Jan 2011

BAHASA adalah salah satu simpul kekuatan perubahan bagi sebuah bangsa. Inilah antara lain yang sangat disadari oleh para pendiri negeri ini (founding fathers), sehingga bahasa menjadi salah satu yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Mempertimbangkan Keberaksaraan

Dalam bukunya, Menyemai Karakter Bangsa, Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan, Yudi Latif menyatakan bahwa kata, bahasa, dan susastra adalah rumah tanda. Karena tidak ada kemungkinan mengada di luar tanda (bahasa). Maka, sebagai rumah tanda, kata, bahasa, dan susastra menjadi rumah kehidupan. Meminjam istilah Martin Heidegger, Language is the house of being. Sebagai rumah kehidupan, upaya perjuangan dan kebangkitan apa pun harus bermula dari bebenah (perbaikan) kata, bahasa, dan susastra, dengan merebut dan menghidupkan kembali darah kata.

Kebangkitan bangsa memang mustahil terjadi jika tidak dimulai dengan memuliakan kata, bahasa, aksar…

Elitisme Kritikus Seni

Damhuri Muhammad
Kompas, 2 Januari 2011

ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (Kompas, 19/12). Ia membincang berlimpah ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus.

”Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum ”kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Menurut Arif, otoritas pengarang yang telah dilumpuhkan oleh perayaan tafsir-bebas pembaca juga berakibat pada ”kematian kritikus”. Sebab, dalam banalitas pembacaan, komentar pakar seni tidak ada lagi bedanya dengan suara khalayak ramai. Tak jarang, pembaca jamak lebih berwibawa ketimbang kritikus seni.

Dalam konteks ”kematian pengarang”, Barthes hanya mendeklarasikan perluasan hak pembaca agar pengarang tidak menjadi satu-satunya pen…

Kritikus Seni Sudah Mati

Arif Bagus Prasetyo
Kompas, 9 Januari 2011

TEMU Sastrawan Indonesia III di Kota Tanjung Pinang pada 28-31 Oktober menyoroti mendung krisis kritik sastra yang sejak lama dirasakan merundung ranah kesusastraan kita. Sastra Indonesia mutakhir dianggap tumbuh nyaris tanpa kritik. Diperlukan upaya serius dalam meningkatkan jumlah ataupun mutu kritik sastra untuk mengimbangi pertumbuhan karya sastra yang kian menyubur akhir-akhir ini.

Kritikus sudah mati, kata Profesor Ronan McDonald dalam The Death of the Critic (2007). Era kritikus sebagai penentu selera publik dan konsumsi kultural telah berlalu. Dulu, khususnya pada masa puncak Modernisme pada abad ke-20, kritikus seni (termasuk kritikus sastra) menduduki peran hierarkis sebagai figur yang dipandang lebih tahu tentang seni daripada orang kebanyakan. Kritikus seni menjadi sosok panutan yang sabdanya diyakini berbobot istimewa dan layak ”diimani” khalayak. Pada era postmodern abad ke-21 sekarang, aspek hierarkis tersebut kian pudar ditelan p…

Ketika Sebuah Konde Berkisah

Judul : Konde Penyair Han
Penulis : Hanna Fransisca
Penerbit : KataKita, Depok
Cetakan : 1, April 2010
Tebal : 141 halaman
Peresensi : Karkono S.S.,M.A
http://www.malang-post.com/

Jika kita jeli mencermati kehidupan, terlihat bagaimana kecanggihan teknologi berdampak luar biasa pada semua lini kehidupan. Berkat kecanggihan teknologi, dunia seakan dibuat bergejolak setiap saat. Televisi sebagai contoh sederhana. Dari televisi kita bisa melihat betapa penuh warnanya peristiwa yang terjadi di muka bumi.

Peristiwa yang mengharukan, menggelikan, menyenangkan, menyesakkan dada, sampai yang tidak dapat dipercaya oleh logika semua ada. Banyak peristiwa nyata yang lebih fiktif dari karya fiksi tersaji hampir setiap hari di televisi, peristiwa yang sejatinya luar biasa pada akhirnya menjadi biasa di telinga kita karena kelewat sering terdengar.

Kecanggihan kotak ajaib yang bernama televisi hanya salah satu contoh. Belum lagi kalau kita bicara tentang Hand Phone (HP) dan internet. Melalui piranti HP dan …

Budaya Lokal dalam Sastra di Mata Cerpenis

Kolecer & Hari Raya Hantu
Eka Fendri Putra
http://www.suarakarya-online.com/

Cerita pendek sebagai salah satu genre sastra, kadang dianggap lebih mudah menuliskannya dibanding puisi, drama atau novel. Padahal menulis cerita pendek membutuhkan kepiawaian mengemas satu fragmen kehidupan yang dipadatkan dalam dunia kata yang lebih pendek. Pengamatan, pemahaman, pengalaman dan imajinasi itulah yang dimunculkan oleh 11 penulis dalam duapuluh cerita pendek. Nama-nama mereka sudah dikenal dengan pengalaman menulis yang cukup menggaram. Kumpulan cerpen ini menjadi menarik ketika dikemas dengan memasukkan warna-warna lokal dalam tradisi yang kadang memunculkan tragedi pada para pelaku budaya tradisi itu sendiri. Kisah-kisah biasa bisa menjadi sangat menarik ketika dikemas dalam dunia kata dengan cara yang apik. Begitu sebagian dari kata pengantar kumpulan cerpen “Kolecer dan Hari Raya Hantu, 20 Cerita Pendek Kearifan Lokal” yang diberikan oleh Free Hearty, pengamat budaya dan juga dosen Unive…

Hati adalah Lubuk Merah, Membaca “Biografi” Hanna Fransisca

Benny Arnas
Riau Pos, 2 Januari 2011

“Di Sudut Bibirmu Ada Sebutir Nasi” (DSBASN), sajak kedua dari buku puisi Hanna Fransisca yang bertajuk Kode Penyair Han (Kata-Kita, 2010), dibagi dalam empat bagian. Pembagian dalam sajak yang diberi sub judul “:biografi Han” tersebut tampaknya dibuat dengan pertimbangan yang matang. Bila biografi adalah catatan runut, maka DSBASN adalah cerita yang teratur. Memang, pembagian tersebut tidak dimaksudkan untuk menjelaskan perjalanan dalam kerangka waktu, setting, dan konflik tertentu sebagaimana plot dalam cerpen, atau bab dalam novel. Hal itu lebih sebagai sekuen mini yang padat. Ungkapkan kegetiran dengan sumir. Hanna tak meminta pembaca mengikuti teori Tuebingen (1986) yang menyatakan bahwa pembaca harus memahami pengarang jauh lebih baik dibanding pengarang memahami karyanya sendiri. Hanna membiarkan pembaca menikmati kisahnya. Hanna tengah berkomunikasi tanpa mempersilakan dialog muncul.1 Hanna tengah bermonolog. Dan pembaca adalah para penonton …

Apa Pentingnya Gaya Bahasa?

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

ALHAMDULILLAH laman Mata Kata kembali hadir pada Kamis ke empat, bulan Mei 2011. Kali ini tampil penyair Salamet Muntsani (Bandung), I Putu Gede Pradipta (Bali) dan Restu Ashari Putra (Bandung). Ketiga penyair yang tampil dalam kesempatan kali ini, lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, telah menunjukkan kemampuannya dalam menulis puisi, dengan tema yang beragam.

Bila kita sungguh-sungguh membaca puisi yang ditulis oleh ketiga penyair tersebut, maka akan segera terlihat bahwa mutu sebuah puisi tidak ditentukan oleh panjang dan pendeknya puisi yang ditulis, akan tetapi sangat ditentukan oleh seberapa jauh masing-masing penyair mampu mengolah bahasa, dalam menulis puisinya itu. Dengan itu, tak aneh kalau banyak kalangan yang mengatakan bahwa yang panjang itu belum tentu memuaskan. Tapi yang pendek, bisa mantap, dan segar. Lihat saja sejumlah puisi Haiku yang ditulis oleh para penyair Jepang pada masa-masa awal kelahirannya itu, mem…

Lari dari Blora, Berkenalan dengan Masyarakat Samin

Mila Novita
http://www.sinarharapan.co.id/

Keharmonisan kehidupan masyarakat Samin di Pati tiba-tiba terusik. Seorang peneliti dari LSM asing, Chintya (Annika Kuyper) dan seorang guru sekolah dasar dari kota, Ramadian (Iswar Kelana), dianggap penyebabnya. Mereka tidak mengacau, namun perubahan yang mereka bawa mengusik warga.

Ramadian ingin membuat anak-anak Samin berpendidikan, sementara Chintya ingin masyarakat Samin dikenal dunia. Namun, niat mereka itu dianggap merusak kebiasaan orang-orang Samin yang tidak mengenal sekolah. Bagi mereka, hidup harmonis, tanpa iri hati dan saling curiga sudah menjadi kunci kehidupan.

Di antara perjuangan Ramadian dan Chintya menembus ideologi mereka, ada kisah cinta segi tiga antara Ramadian, Chintya, dan Hasanah (Ardina Rasti). Hasanah bukan orang asing. Dia adalah anak Pak Camat (Nizar Zulmi) yang menjadi rekan mengajar Ramadian di sekolah dasar tersebut. Sama dengan Ramadian, ia juga ingin menyekolahkan anak-anak Samin. Namun, larangan Pak Lurah (So…

Tradisi Yang Tak Diam: Pementasan Teater “Siti Baheram (bukan dunia luar pagar)”

Y. Thendra BP
http://sastra-indonesia.com/

Tiga tukang kaba di atas tiga level, tampak seperti tungku. Di tengahnya, para penari dengan rebana kecil memainkan tari Indang, serupa api yang sedang menyala. Ditingkahi dendang dan alat musik Minangkabau (Saluang, Bansi, Rabab, dan Talempong yang silih berganti). Tiga tukang kaba itu melantunkan kisah, sahut menyahut.

Kemudian tukang kaba dan penari berbaur menjadi tiga kelompok. Memainkan bentuk grouping, mereka saling berbantah, laiknya suara urang banyak. Satu kelompok (protagonis) memihak kisah “Siti Baheram”, Satu kelompok menolak (antagonis), satu kelompok lainnya (tetagonis) menengahi. Tiga kelompok itu adalah visualisasi tigo jerong yang merupakan istilah dalam tari Indang, juga mengacu pada filosofi Jerong Nan Tigo (alim ulama, ninik mamak, cerdik pandai). Sebelum selisih faham makin tajam, kelompok penengah mengajak untuk sebaiknya menyimak kisah. Akhirnya ‘kebenaran kisah’ dari Siti Baheram dikembalikan kepada penerima kaba (penont…

REALISME DAN SASTRA MULTIKULTUR, MASA DEPAN SASTRA KITA

S Yoga
Jawa Pos 31 Okt2010

Dalam perkembangan sastra kita, dinamika sejarah sastra dunia, sangat berpengaruh. Tengok Pujangga Baru, yang merupakan gema dari angkatan 80 di negeri Belanda. Angkatan Gelanggang atau angkatan 45, yang digemai oleh sastra dunia yang memiliki konsepsi modernisme. Demikian juga dengan dekade 70an, lewat eksistensialisme dan absurditas. Termasuk juga polemik sastra, karya sastra yang bersifat postmodernisme, yang merupakan gema yang sudah berkecamuk pada tahun 70an di Eropa. Tak ketinggalan polemik sastra kontekstual, yang merupakan gema dari gerakan sastra multikultur yang mengejala di sastra dunia hingga kini.

Realita Sosial

Dalam perkembangan sastra kita selama satu abad ini, selalu dijiwai oleh sastra realisme, kita perhatikan semenjak Siti Nurbaya tahun 1920an hingga para pemenang Lomba novel DKJ, 1998-2008, banyak didominasi oleh sastra realita sosial. Yang berangkat dari pengalaman pribadi dan hasil penelitian. Fenomena ini bisa kita jelaskan, dari perkemb…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com