Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Sajak-Sajak Mardi Luhung

http://kompas-cetak/
Pendalungan

Di genting aku tertidur dan bersiap menantimu.
Tertidur seperti mayat yang matanya terbuka.
Terpulas warna samar sampai gelap pekat.
Di udara yang tipis, benang itu terentang.
Lurus dan lenyap di ketinggian. Lewat benang itulah
kau akan tiba padaku. Mungkin memelukku.
Dan menciumku. Seperti kisah perawan yang
tersihir di peti yang cokelat. Dengan tujuh lelaki
cebol yang selalu menangis dan tertawa.
Tujuh lelaki cebol yang kemarin memasuki kamarku.
Dan membangun sebuah keraton mini. Yang penuh
dengan kuburan dan kenduri.
Juga para badut yang selalu ribut dengan
gelang-gelang, obor dan sepatu raksasa. Serta
senapan yang berpeluru bunga-bunga dan hujan.
Katamu dulu: "Bidiklah aku dengan senapan itu!"
Tapi kataku kini: "Aku hanya ingin menantimu. Bukan
membidik!" Tujuh lelaki cebol pun terperangah.
Lalu, di udara yang tipis dan semakin tipis itu,
benang yang terentang bergoyang. Ada gelembung
besar menggelinding turun. Gelembung yang menyala.
Gelembung yang s…

Kemarau Air Mata

Fakhrunnas MA Jabbar
http://kompas-cetak/

Debu jalanan yang pekat menyesakkan napas. Sebuah truk pengangkut tanah timbun mengepulkan debu itu sehingga menggelapkan pandangan. Panas terik memang telah berlangsung terlalu lama. Aku sendiri tak sanggup lagi membilang karena sudah terlalu lama didera derita. Pohon-pohon meranggas. Dedaunannya berguguran. Entah kapan lagi sang pohon akan berbunga dan berputik kembali.

Setiap hari kusaksikan lalu lintas truk proyek dari gubuk yang kutempati bersama Maryam dan ketiga anak kami yang masih kecil. Wajah mereka terlihat penuh belas dan pasi karena jarang mendapatkan makan bergizi. Kemarau panjang tahun ini makin memperburuk keadaan kami sekeluarga. Tanaman padi di sawah yang luasnya kira-kira sepiring boleh dikatakan tak menghasilkan apa-apa. Hama pianggang mudah sekali menyerang saat panas berkepanjangan.

"Kapan lagi Abang ke Kantor Desa?" tanya Maryam membangunkan kesadaranku akan persoalan mendasar yang sedang kami hadapi. Bukan hanya k…

Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa

http://sastrakarta.multiply.com/
PUISI PAGI SEORANG PENGANGGUR

Tuhanku
hari ini tak ada yang tercatat dalam buku
tak ada ruang terbaik buat menunggu
tak pernah lagi hari-hari kuhitung
batu-batu lelap menatap
lewat jendela yang terbuka
terdengarlah senantiasa teriakan-teriakan
gemuruh roda-roda kehidupan
yang digerakkan tangan-tangan
kembali aku pun mengaca pada diri-sendiri
ketika Kau tetap bernama Sunyi
ketika segalanya hadir: puisi.
Tuhanku
hari ini untuk pertama kali
kuucapkan pada-Mu: Selamat Pagi
sebab, ketika hari bulan terus juga memberi
senantiasa aku pun merasa
hidup memang bukan milikku pasti



SEPOTONG WAJAH

Dari atap dan jalan-jalan kota
membidik masa lampau
indahnya semua yang indah
bertindak aku tak hendak dipandang salah
meski kasar mengusir
ditinjau tetap berdesir apalah penyair
di hulu batinnya, di hilir mata segan menerima
Seorang bertahan terhadap perlambang cendekia
Seorang bertahan rahasia mimpinya

Jangan kasihani kami, di mana-mana
biarkan tegak, sendiri
hingga tenggelam seluruhnya
kembali dahulu…

Puisi-Puisi Thowaf Zuharon

http://sastrakarta.multiply.com/
Tanjung Tua 1856

aku cuma tanjung tua
pada seluruh abad yang diguncng mesiu

bila mampu menyebut nama
aku ingin fasih mendongeng kepada semua telinga
tentang asing serdadu yang haus menghirup rempahku

dalam dongengku,
puluhan perahu moyang dan jung berlabuh
di wajahku yang setedung purnama penuh
sauhnya angkuh menusuk lambung-lambung
langit langsung murung!
aku gemetar menahan ratap
menatap pulau Sikepal runtuh
dijarah musuh yang rusuh

seribu serdadu yang kuku kakinya angkara
begitu jumawa meretakkan dadaku hingga remuk
raung seram mencekam tengkuk malam
memberangus hangus langit Agustus
segera kuutus sekawanan angin
berhembus ke Benteng Bendulu
membisikkan kabar cemas ke telinga Tuan Intan
yang kuharap segera siaga
membangunkan seluruh prajurit jaga

angkat terapang! angkat terapang!
genderang perang lekas berkumandang
seribu asing serdadu hendak meradang

setelah usai dongeng itu
kuukir di lekuk karangku
sebuah riwayat penuh khianat penuh kesumat
meski dalam arus waktu yang terus me…

Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar

http://sastrakarta.multiply.com/
Dermaga Tiga Sebelum Keberangkatan

tubuhmu mengarak anak ombak
meniti beburit, melempar tampar jangkar hingga ceruk
terdalam tempat kau aku ceburkan resah yang membiak

jangan bimbang dan ragu. jangan tunggu sanak
kapal akan segera diberangkatkan menuju seberang
biar sanak-kerabatmu menyelam atau terbang jadi sisifus
barangkali mereka tengah bersiap tinggalkan gubuk-gubuk
tanpa menitikkan keringatnya pada kampung terkurung
jangan tanya ke mana ikan panggang terbuang
keringat sudah lama mengering

surabaya-jogja, 2007



Percakapan Malam

seusai gerimis membasahi alas tidurku dan tidurmu
di tanah pasir, di halaman panjang; kamu aku mengarak waktu
menapaki jalanan setapak menuju pusara
berbau kembang kecubung. bergoyang dan berserak di selembar almanak
lalu, kamu aku menandainya saat langit terkatup kabut.

tapi masih saja, sesuai gerimis, selepas jam dua belas malam
ketika sulur cahaya fajar mekar, kamu-aku lupa busur biosfir,
tanah-tanah basah melembab, halaman berpasir memanjang…

Kebudayaan Kita Makin Tergusur

Matroni A. el-Moezany
http://www.lampungpost.com/

Sebuah persoalan dalam bidang budaya yang masih mendesak pemahaman kita ialah mengapa kebudayaan Indonesia sejak 1980-an berada dalam keadaan kurang mengembirakan, ia makin tergeser, tergusur, dan tersingkir dari pusat dan puncak perhatian dan kesibukan kita sehari-hari. Ini memang bukan persoalan baru dan memang sudah ramai diperbincangkan pada awal 1980-an, tapi setiap ada yang mempertanyakan apa yang kini harus diperhatikan dalam sebuah kebudayaan Indonesia, saya cendrung menunjuk pada tidak lagi mementingkan kebudayaan sebagai problematika terpenting.

Musim temu budaya, daerah sebagai penyangga badaya nasional bermunculan diberbagai kota seakan-akan budaya kita pada masa ini menghadapi kemunduran biarpun seorang pakar budaya masih penting, ia tak lagi penting pada 1970-an seorang pakar budaya pada masa pra-Orde Baru mungkin seperti seorang Iwan Fals, Abdurrahman Wahid atau Laksamana Soedomo.

Pada 1970-an orang sudah mengeluh tentang ke…

ESTETIKA WAYANG CERPEN AHMADUN Y HERFANDA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Ketika berbagai saluran komunikasi terhalang tembok besi kekuasaan, sementara segala aspirasi dan harapan mampat di tengah jalan, kesenian –khasnya sastra— kerap digunakan sebagai alternatif. Di sana, dalam balutan estetika, sastra coba bermain dan mempermainkan saluran yang mampat itu. Tembok besi kekuasaan dan pandangan orang terhadapnya, dapat disulap menjadi lelucon atau kisah-kisah yang terjadi di dunia entah-berantah. Jadi, sastra berpeluang memasuki wilayah apa saja, tanpa harus dibayangi kecemasan menghadapi kegagalan mencapai sasaran.

Sastra tak berpretensi mengubah tatanan sosial secara revolusioner. Ia dihadirkan dengan kesadaran menggoda rasa kemanusiaan, menyentuh secara halus, dan diam-diam menggerayangi hati nurani kita. Sastra coba menguak dan kemudian menyodorkannya kepada kita dengan cara yang khas. Dalam hal ini, sastra mencoba menyajikan dan memaknainya dengan caranya sendiri. Ia mungkin berbentuk kisah tentang kehidupan…

Kekerasan

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat.

“Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,”kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!”

Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.

“Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”

“Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!”

“Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampah-sampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata I…

BELAJAR MENULIS DARI MARDI LUHUNG

Sutejo
Ponorogo Pos

Ketika beberapa waktu lalu HU Mardi Luhung menjadi pembicara di SMA Immersion Ponorogo, dia lebih banyak bercerita tentang apresiasi puisi dan bagaimana membaca puisi. Dalam perbincangan informal di rumah, di jelang pagi, Mardiluhung mengungkapkan beberapa hal menarik berkaitan dengan proses kreatifnya: (a) bahwa proses kreatif itu sebenarnya tidak bisa diceritakan, (b) bahwa menulis ternyata mengalami fase kritis (krisis), (c) menulis itu harus peka situasi karena itu sering mengamati kejadian sosial, dan (d) menulis itu butuh risearch.

Geger Gember Genjer-Genjer

Novel : Kantring Genjer-Genjer; Dari Kitab Kuning Sampai Komunis
Penulis : Teguh Winarso AS
Penerbit : Pustaka Pujangga, Lamongan
Cetakan : I, 2007
Tebal : 120 hlm.
Peresensi: Sungatno
http://cawanaksara.blogspot.com/

Andaikan saat ini masih era pembasmian ideologi komunis di negeri ini, jangan sekali-kali anda menyenandungkan lirik Genjer-genjer. Sebab, sekali saja anda menyenandungkan lirik tua ini dan didengar oleh orang atau pemerintah, anda akan dituding sebagai antek-antek komunis. Anda akan dicekal, dibuang, disiksa hingga mati dan dibuang dalam gelapnya lobang; lobang buaya. Inilah kenyataan yang pernah terjadi di negeri bekas penjajah ini.

Dalam novel ini, Teguh Winarso AS terasa memiliki nyali yang cukup gede. Dari judul novel ini saja, Teguh telah memberikan rangsangan informasi bagi calon pembaca bahwa didalam novel yang tercover warna darah ini bergelantungan kisah kehidupan manusia yang senang dan atau takut terhadap komunis.

Pembaca akan diajak menyelami kehidupan rakyat kecil (…

LUDRUK, KEMERDEKAAN DAN PERLAWANAN

S Yoga*
http://www.surabayapost.co.id/
http://syoga.blogspot.com/

“Bekupon Omahe Doro, Melok Nipon Soyo Sengsoro”.
Begitulah kidungan Cak Durasim, pendiri Ludruk Organizatie (LO) di zaman perjuangan, yang berhasil membangkitkan rasa tidak senang rakyat terhadap Jepang, hingga masuk bui, disiksa tentara Jepang, dan akhirnya meninggal di penjara. Dari fenomena ini, kita tahu bahwa ludruk, sebenarnya merupakan kesenian perlawanan di masa penjajahan, baik itu di masa kolonial Belanda maupun Jepang. Kontribusi ludruk di masa perjuangan kemerdekaan tak bisa diremehkan. Ludruk efektif menghibur masyarakat yang tertekan, tertindas dan lapar, yang dikebiri hak sosial, ekonomi dan politiknya. Sehingga masyarakat ketika menyaksikan pertunjukan ludruk, sekejab bisa terbebas dari segala tekanan hidup dan merasa merdeka. Dan di dalam peristiwa ludruk, yang biasanya terbagi dalam nyanyian, tari remo, kidungan, lawakan dan lakon utama. Para pemain bisa memasukan kidungan atau dialog sambil menyampaikan k…

Puisi-Puisi Hudan Nur

http://www.suarakarya-online.com/
SOLO BALAPAN
- kepada ayahanda raditya putra

kita terpisah di stasiun ini
pemberhentian sejenak sebelum kita pastikan
melanjutkan perjalanan
aku tahu kamu pulang ke kebumen
menemui sanak famili, astri dan adik kandungmu yang baru belajar menghitung angka
dan sehampar ladang yang telah
memberimu keyakinan bahwa hidup adalah membalik tanah
serta kebun yang mengajarimu bagaimana bekerja mengolah
dan memanen umbi-umbian
dengan kesemangatan sejenak kuberpikir,
apa saja yang telah aku gali di ladang usiaku
apakah juga membalik tanah sepertimu
aku terpatri memasung diri karena
tak mampu mencangkul tanah tandus penuh bebatuan
ya aku tidak seperti yang kau kira

karena aku dibesarkan di bantaran sungai

martapura yang mengajariku berlayar ke muara-
muara mengenali barito, tabunio, dan jenis
ikan tawar yang dijual pamanku setiap pasar
arba stasiun hidup kita tak samaperjalanan

berikutnya pun tentu tak sepemahaman

jiwaku dengan gaya laut merah
jiwamu dengan gunung merapi
(namun s…

Gaza, Dunia di Rembang Petang

Otto Sukatno CR*
http://www.kr.co.id/

DUNIA ini notabene dihuni sekitar tiga miliar manusia. 12 Juta di antara dari mereka-kurang dari setengah persen-diklasifikasi sebagai bangsa Yahudi (Israel). Secara statistik, mereka sebenarnya hampir tidak teramati. Tetapi bangsa Israel justru betul-betul dikenal, di luar proporsi dengan jumlah mereka yang kecil. Tak kurang dari 12 persen dari semua hadiah Nobel di dalam bidang fisika, kimia dan kedokteran telah jatuh ke tangan orang-orang Israel. Kontribusi Israel pada daftar nama-nama besar dunia di bidang agama, sains, sastra, musik, keuangan, dan filsafat amat mencengangkan.

Sederet nama-nama besar dan dimuliakan dunia juga telah dihasilkan bangsa ini. Semisal Karl Marx, yang dengan Das Kapitalnya yang legendaries. Albert Einstein, matematikawan paling kesohor hingga saat ini, yang menghantarkan kita ke zaman atom dan membuka jalan bagi manusia menapakkan kakinya di bulan, adalah berkat teorinya. Sigmund Freud, dengan psikoanalisanya, telah me…

Sastra dan Pahlawan

Bandung Mawardi*
http://www.surabayapost.co.id/

Toto Sudarto Bachtiar pada bulan November 1955 menulis sebuah puisi terkenal dengan judul “Pahlawan Tak Dikenal”. Toto menuliskan puisi itu sebagai rekaman dari perenungan dan pengentalan selama 10 tahun ketika ikut dalam perjuangan kemerdekaan 1945. Toto mengisahkan: Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring / Tetapi bukan tidur, sayang / Sebuah lubang peluru bundar di dadanya / Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang. Puisi ini menjadi memori kolektif karena kerap hadir di buku teks pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia atau jadi teks untuk lomba baca puisi. Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” merepresentasikan narasi empati terhadap lakon hidup pahlawan.

Djawastin Hasugian pada tahun 1965 menuliskan sebuah puisi yang mengacu pada peristiwa 10 November 1945. Penyair dengan kalem mengenangkan peristiwa pertempuran rakyat Indonesia dengan pasukan Sekutu di Surabaya. Kenangan berulang atas perjuangan dan kematian pahlawan dituliskan oleh peny…

Memburu Satwa(m) ''Segara-Wana''

Judul : Ziarah bagi yang Hidup
Pengarang : Raudal Tanjung Banua
Penerbit : Matahari Yogyakarta, 2004
Tebal : viii + 138 halaman.
Peresensi: I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

DIPILIHNYA Bali sebagai ruang bedah karyanya, bagi Raudal Tanjung Banua, adalah upaya menghormati tanah kelahiran keduanya. Artinya, Raudal memang memulai dunia kepengarangannya dari ber-gradag-grudug dengan Sanggar Minum Kopi (Bali) dan belajar secara intens pada Umbu Landu Paranggi. Dalam konteks ini, Raudal melakukan napak tilas sejarah bagi dunia kepengarangannya sebagaimana layaknya orang melakukan ziarah untuk sungkem dan hormat pada orang (juga tanah kelahiran) yang telah membesarkannya.

Buku "Ziarah bagi yang Hidup" ini memuat 12 cerpen yang rata-rata telah dimuat sebelumnya di koran maupun majalah bahkan ada di antaranya yang telah masuk antologi. Denyut apresiasilah yang menjadi sasaran Raudal mewartakan karyanya ke dalam berbagai media menuju arah pencapaian demokratisasi bersumber pada ger…

PORNOGRAPHY

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Jadi begitulah. RUU PORNOGRAPHY lolos di DPR. Banyak orang bersedih.Tetapi yang lain berpesta, seakan-akan segala kebejatan berhasildiberantas. Di rumah, anakku Ami nampak kesakitan. Ia bahkan tak maupergi ke kampus padahal ada tentamen.

Aku terpaksa menghibur.

“Beginilah resikonya hidup dalam alam demokrasi Ami. Yang menangadalah yang lebih banyak, meskipun belum tentu lebih bener. Jaditabahlah hadapi kenyataan.”

Ami mengangguk. Tapi wajahnya tambah berat.

“Sudah Ami, terima saja. Orang yang menang adalah orang yang beranimenerima kenyataan. Kalau kamu bisa menerima kenyataan kalah ini, kamubukan pihak yang kalah. Sedangkan orang yang menang suara, padahalbelum tentu mereka benar, apabila tak belajar dari yang kalah, kenapakamu dan teman-teman kamu begitu menentang RUU itu, mereka adalahorang yang kalah. Karena mereka hanya memikirkan kemenangan, bukanmemikirkan keselamatan negeri dan seluruh rakyatnya yang 220 juta jiwadengan panutan budaya yan…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com