Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Tragika Sebuah Pergumulan Identitas

Judul: Putri Cina
Penulis: Sindhunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU), Jakarta
Cetakan: Pertama, September 2007
Tebal: 304 Halaman
Peresensi: Nur Faizah
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

SEBUAH karya sastra seperti adikarya seni lain selalu membuat kita lupa pada dunia, untuk kemudian menemukannya kembali dengan cahaya yang baru.

Tiap kali kita membaca lagi, sastra bergerak menghamparkan diri dengan sejumlah kilau manikam baru, yang sempat tersembunyi dalam lipatan-lipatannya. Di dalam sastra, baik yang berpijak pada sejarah atau semata imajinasi fiktif, mencakup kompleksitas ideologi, dunia nilai, norma hidup, etika, pandangan dunia, tradisi, dan variasi-variasi tingkah laku manusia. Dengan kata lain, sastra berbicara tentang tingkah laku manusia dan kebudayaannya.

Di dalam sastra, seperti terlihat dalam novel ini, manusia disorot sebagai makhluk sosial dan sekaligus budaya Tak mengherankan sastra disebut cermin masyarakat, dan cermin zaman, yang secara antropologis merepresentasik…

Politik yang Menyerah

Radhar Panca Dahana
http://www.gatra.com/

Ekonom peraih Nobel asal Amerika Serikat, Joseph Stiglitz, sekali memberi masukan dengan mengambil contoh India, Cina, dan Argentina sebagai negara-negara dengan karakteristik yang sama dengan Indonesia, yang ternyata jauh lebih berhasil dalam mengatasi krisis dan kini mencapai stabilitas serta mencatat pertumbuhan ekonomi yang fenomenal. Dengan cara, antara lain, Argentina misalnya, mendesak penghapusan utang, mengenyahkan bantuan IMF dan advis-advisnya, menahan liberalisasi bank dan perusahaan negara, serta mengendalikan pasar bebas, terutama dalam komoditas yang menjadi hajat hidup rakyat.

Sebagai respons, penanggung jawab utama ekonomi negeri ini, Boediono, berkilah dengan menyatakan bahwa kesalahan tidak dapat begitu saja ditimpakan pada utang luar negeri atau penyerahan perdagangan serta kurs pada rezim pasar bebas. Di bagian lain, otoritas ekonomi dan keuangan juga menegaskan kuatnya fundamental ekonomi untuk menghadapi guncangan kurs atau…

POLITIK KEBUDAYAAN

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Seniman sejati berkarya lantaran desakan hati nurani. Reputasi, kebesaran, dan popularitasnya, pertama-tama sangat ditentukan oleh kualitas karyanya. Maka sesiapa pun dia, dengan ideologi apa pun, dan dengan latar belakang kebudayaan mana pun, tetap akan sampai pada prestasi yang reputasional, jika ia berhasil membangun kualitas karyanya menjadi monumen! Tanpa kualitas, ia hanya akan menjadi pelengkap, medioker, dan namanya tercatat dalam sebuah senarai dengan urutan angka dan daftar karya, tanpa torehan stabilo, tanpa peristiwa. Kualitas karya itulah yang utama. Ketika terjadi pembonsaian atas mahakaryanya, usaha itu akan terpental sendiri. Sebuah mahakarya di dalamnya mendekam perisai tolak bala. Sebuah mahakarya tidak memerlukan suntikan imunisasi, karena ia lahir dengan kesanggupan mempertahankan diri dari serangan pihak mana pun. Di dalam dirinya tersedia program antivirus yang memungkinkannya kebal dan mempunyai kemampuan melakukan co…

Suara Lokal dalam Sastra Indonesia

Asarpin*
http://www.lampungpost.com/

SEJARAH kesusastraan abad ke-20 sangat dipengaruhi interaksinya dengan kolonialisme. Pada dasawarsa pertama Orde Lama, sastra Indonesia diwarnai sikap yang mendua: Sikap antara keharusan mengembangkan nilai-nilai lokal dan kekhawatiran terhadap identitas di baliknya. Ini berbeda dengan kenyataan yang terjadi di India dan Afrika, di mana sastra lokal pada 1950–1960-an menjadi strategi perlawanan terhadap kanon sastra Eropa.

Dasawarsa pertama Orde Baru, karya-karya sastra yang terbit mulai banyak menyuarakan sastra daerah meskipun tema pokok yang dibahas belum menunjukkan pergeseran. Novel-novel yang terbit pada paro pertama hingga pertengahan 1970-an, menampilkan serentetan gejala lokal melukiskan tatanan sehari-hari, seperti keluarga, kepercayaan, ritual, dan kebiasaan sebuah komunitas. Hal ini bisa ditelusuri dalam novel Upacara (1978) karya Korrie Layun Rampan, Khotbah di Atas Bukit (1976), cerpen “Suluk Awang-Uwung” (1975), Makrifat Daun, Daun Makr…

Novel Terakhir Saddam Hussein

TARIAN SETAN
Penulis: Saddam Hussein
Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta, Desember 2006, xx + 266 halaman
Peresensi: Erwin Y. Salim
http://www.gatra.com/

Judul buku ini mengingatkan kita pada Ayat-ayat Setan alias The Satanic Verses karya Salman Rushdie yang pernah menggegerkan. Apalagi, pengarangnya adalah tokoh yang cukup kontroversial: Saddam Hussein, pemimpin Irak yang digulingkan Amerikan Serikat dan sekutunya.

Tapi karya Saddam ini berbeda 180 derajat dibandingkan dengan karya Salman. Dalam cerita berjudul asli Akhreej Minha Ya Mal’un ini, yang kurang lebih berarti Enyahlah Kalian, Terkutuk!, Saddam bertutur tentang perjuangan melawan si angkara murka. Cerita berlatar dunia Arab ini tampaknya sebuah metafora perlawanan terhadap Amerika.

Ada sosok Hasqil si tamak, licik, dan haus kekuasaan yang bersekongkol dengan kepala suku adikuasa Romawi. Ada penaklukan suku-suku dan pemerasan rakyat yang menghasilkan menara kembar, tempat menimbun harta hasil memeras rakyat. Ada tokoh Salim, simbol pem…

Puisi Itu Pukulan Bersarung Tinju Beludru

Dorothea Rosa Herliany, Triyanto Triwikromo
http://layar.suaramerdeka.com/

JAWA Tengah wajib bangga memiliki penyair Dorothea Rosa Herliany. Sebab, selain buku puisinya, Santa Rosa, memenangi Khatulistiwa Literary Award 2005-2006, jauh sebelumnya kumpulan puisinya yang lain, Kill the Radio, masuk sebagai lima besar penghargaan paling bergengsi dalam dunia kesusastraan di Indonesia itu pada 2001. Setelah itu, pada 2003 Pusat Bahasa juga memilih dia sebagai pengarang terbaik 2003. Bahkan akhir 2004 Dorothea menerima “anugerah seni” dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Apa makna penghargaan-penghargaan itu bagi perempuan yang pada 1995 pernah mendapatkan Anugerah Seni dari PWI Jawa Tengah ini? Berikut petikan perbincangan dengan dia di Magelang belum lama ini.

Apa makna Khatulistiwa Literary Award bagi dunia gagasan Anda?

Ini adalah semacam pengakuan dari banyak orang terhadap puisi-puisi saya. Ini berarti puisi-puisi saya dinikmati dan dipahami oleh banyak orang. Tentu sangat mengge…

Mengangkat Kembali Sastra Marjinal

JUDUL: Sastra-Pra Antologi Indonesia Tempo Doeloe
PENULIS: F Wiggers, G Francis, Tio Ie Soei, FDJ Pengemanann, H Kommer
PENYUSUN: Pramoedya Ananta Toer
PENERBIT: Lentera Dipantara, Februari 2003
TEBAL: 411 ha.
PERESENSI:Alia Swastika
http://www2.kompas.com/

MENCERMATI buku pelajaran bahasa Indonesia yang digunakan sebagai pedoman dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah, tampak bagaimana pengaruh politik dalam perkembangan sastra kita. Selama 32 tahun, murid-murid sekolah ini belajar tentang sastra Indonesia dalam versi yang sudah diakui oleh penguasa (baca: pemerintah Orde Baru), yakni sastra yang termasuk dalam kategori sastra tinggi (yang dengan sendirinya memakai bahasa tinggi), dan ditulis oleh pengarang-pengarang yang haluan politiknya sejalan dengan penguasa.

KARENA itu, yang paling diingat dari sejarah sastra pada akhirnya hanyalah nama-nama, karya-karya, atau juga ingatan yang sepenggal tentang Balai Pustaka. Dalam buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sejarah (sastra) menja-…

Sastrawan yang Kontroversi

Arief Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Tanggal 1-7 Februari 2008 di Blora, berlangsung peringatan 1000 hari meninggalnya Pramoedya Ananta Toer. Periode 60-an Pram dikenal pengikut Lekra. Inilah yang menyebabkan terjadi kontroversi antara kepengarangannya dan ideologi politik yang dianutnya.

6 Februari 2009 tepat 84 tahun yang lalu, Pramoedya Ananta Toer, yang dikenal sebagai pengarang beraliran realisme dilahirkan di Blora, Jawa Tengah. Pramoedya, di era 50-an, mulai muncul pertama kali dengan karyanya yang berjudul Keluarga Gerilya. Dari karyanya ini, Pram, mulai menempati posisi penting sebagai pengarang Indonesia. Karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka menjadi fenomenal karena karyanya ini merupakan karya terbitan Balai Pustaka yang menyisipkan dialog Bahasa Jawa.

Balai Pustaka yang merupakan penerbitan yang didominasi oleh karya-karya yang menggunakan bahasa Indonesia tingkat tinggi, namun karya Pram yang menyisipkan Bahasa Jawa pun ternyata masih dapat diterima. “Inilah yan…

Lebih Mendalam dan Humanis

Lan Fang
http://www2.kompas.com/

bayangku membusuk setelah dingin
kureguk
dan malam yang semakin mabuk
mencambuk tubuhku
dengan segala ngilu. Wajahku tergores
sebaris kelembutan. Aku tenggelam
seperti sebongkah kesaksian yang
mengiris ingatan
di lorong-lorong pelabuhan. Dan ombak
yang kian jantan datang
dengan kesepian tak tertahan
seribu mambang telah berlayar
membawa bunga-bunga api, seperti
petualang jelatang
menyadap tubuhku yang paling mawar

Cuplikan puisi Pelayaran Bunga karya A Muttaqin itu menjadi cover buku dokumentasi sastra Festival Cak Durasim 2007 yang dihelat dari tanggal 10-17 November 2007 di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur. Festival ini merupakan acara tahunan yang pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-8.

Menurut Pribadi Agus Santoso, Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, festival ini merupakan salah satu agenda berkesenian di Jawa Timur dan merupakan sebuah ruang dialog yang diharapkan bisa mengakomodasi kreativitas para seniman. Dari sini diharapkan para seniman bisa s…

Budi Darma dan Kota

Imam Muhtarom
http://cetak.kompas.com/

Seringkali yang terabaikan dalam membaca karya-karya Budi Darma adalah kaitan antara tokoh-tokoh yang terkenal dengan karakternya yang aneh dengan latar kota baik dalam arti latar fisik maupun latar sosial. Tokoh-tokoh macam Joshua Karabish, Ny Elberhart, Fanton Drummond, Olenka, Rafilus, dan Ny Talis, hanya dilihat sebatas bagaimana tokoh-tokoh tersebut tampak secara psikologis. Sekalipun cara ini memang dimungkinkan secara tekstual, namun untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh dalam karya Budi Darma mewujud tidak bisa dilepaskan dari proses sosial yang memungkinkan tokoh-tokoh memiliki perwatakan yang aneh, pahit, kurang ajar, jauh dari norma sosial yang ideal.

Kebanyakan cara pandang terhadap prosa Budi Darma memang tidak lepas dari teks prosa itu sendiri yang semenjak awal cerita telah menetapkan jenis perwatakan tertentu yang dimiliki masing-masing tokohnya. Cerita berkembang dengan asumsi-asumsi perwatakan yang telah terbayang begitu kalimat dala…

Darmanto Jatman: Manusia Sudah Disapih Gusti Allah...

Ganug Nugroho Adi, Darmanto Jatman
http://www.suaramerdeka.com/

PADA 1990-an penyair Darmanto Jatman menulis sajak yang menggagas Indonesia sebagai sebuah perusahaan, Patriotisme Kromo. Hampir 10 tahun kemudian, sajak itu memperoleh SEA Write Award (Penghargaan Sastra Asia Tenggara).

Seperti sajak-sajaknya yang lain, "demokratisasi bahasa" begitu kental dalam Patriotisme Kromo. Ya, demokratisasi. Barangkali itu sebagai kata ganti untuk menyebut keberanian Darmanto dalam memasukkan keberagaman kata, bahasa, juga nama-nama dari Jawa, Indonesia, Inggris, Cina, dan juga Belanda dalam puisinya.

Alhasil, lewat sajak-sajaknya, "penyair bangsat" ini seakan menciptakan dunia baru dengan para "warga negara" yang datang dari berbagai budaya, status sosial, dan intelektual. Dari juragan sampai batur, dari direktur sampai tukang potong rumput. Dan dalam dunia ciptaannya, "penyair kribo" itu membuat para penghuni bisa menciptakan harmonisasi, saling melengkapi, u…

Kolaborasi Gus Mus-Idris Sardi, Tak Sempurna, tapi Menawan

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

Indonesia tanah air kita/ Bahagia menjadi nestapa/ Indonesia kini tiba-tiba/ Selalu dihina-hina bangsa.// Disana banyak orang lupa/ Dibuai kepentingan/ dunia/ Tempat bertarung merebut kuasa/ Sampai entah kapan akhirnya.

JAKARTA - Petilan sajak ''Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu'' disyairkan dengan nanar oleh KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) diiringi musik minus one yang laras. Ketika petilan sajak yang memarodikan syair tembang "Indonesia Pusaka" itu purna, Idris Sardi dengan penghayatan penuh menggesek biola, membungkus akhir sajak dengan titi nada lagu "Indonesia Pusaka".

Ketika sajak keenam dalam Pergelaran Satu Rasa Menyentuhkan Kasih Sayang yang menyandingkan Gus Mus dan Idris Sardi usai, 350-an penonton di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (22/3) malam, memberikan aplaus meriah.

Gus Dur dan sang istri Shinta Nuriyah serta Yenni Wahid dan Inayah Wulandari tampak terlihat paling bersemangat memberikan aplaus…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com