Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Sajak Di Bawah Bayang-Bayang Rezim Tiran

Judul Buku : 50% Indonesia Merdeka; kumpulan puisi Heri Latief
Penulis : Heri Latief
Penerbit : Ultimus dan Lembaga Sastra Pembebasan
Terbitan I : Agustus 2008
Tebal Buku : xxii + 86
Peresensi : Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Latar belakang penindasan rezim tiran yang tak kunjung padam di bangsa Indonesia. Kesewenang-wenangan penguasa terhadap rakyat, kapitalime tak surut-surut mengeksploitasi sumber daya-sumber daya bumi pertiwi akhirnya membuat rakyat tak berdaya, serta masih banyak lagi problematika yang sedang diderita bangsa Indonesia. Dari persoalan-persoalan tersebut kesadaran Heri Latief terpicu untuk menuangkan suara berontaknya dalam sajak-sajak yang terhimpun dalam buku 50% Merdeka, diterbitkan oleh Ultimus Bandung, Agustus 2008. Suara-suara perih yang dirasakan anak bangsa yang sebagian terwakilkan oleh Heri Latief, nampak jelas sekali dalam sajak-sajak yang ditulisnya.

Hal tersebut mengingatkan saya pada penyair Wiji Thukul yang sampai saat ini masih tidak diketahu…

BAWEAN SENANDUNG DI ATAS AWAN

Judul Buku : Buwun
Pengarang : Mardi Luhung
Jenis Buku : Kumpulan Puisi
Epilog : Beni Setia
Penerbit : PUstaka puJAngga, Februari 2010
Tebal Buku : 66 hlm. 12 x 19 cm
Peresensi : Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Karya-karya besar kerap lahir dari tangan-tangan pengarang yang peka dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tengok saja Gibran, Tagore, Octavio Paz, Albert Camus, setiap kali mereka melakukan suatu perjalanan, dapat dipastikan ada sesuatu yang mengendap dalam pikirannya. Membuncah-ruah menjadi ide bercahaya. Dan bergerak menghasilkan karya.

Peristiwa itu terjadi entah disengaja atau secara alamiah. Yang jelas, sebuah karya kreatif lahir dari fenomena yang telah tersapa. Hal itu ternyata tidak hanya terjadi dalam diri tokoh-tokoh besar kesusastraan dunia, melainkan juga merambah pada pribadi seorang Mardi Luhung. Melalui perjalanannya ke pulau Bawean, lahirlah sebuah karya ekspresif-inspiratif dari tangannya. Karya tersebut diberijudul “Buwun”.

Buwun merupakan sebu…

Studi (Negara) Postkolonial

RISET PENERBITAN BUKU Akan diterbitkan oleh: KalamNusantara@2010
Adi Prasetyo
http://politik.kompasiana.com/

Prolog

Kemerdekaan menggerakan kita dengan janji yang kurang jelas. Negara (Indonesia) membimbing kita pada ujung yang kabur. Tetapi, kemerdekaan dan negara Indonesia telah menjadi candu. Sebuah candu yang menghasilkan revolusi. Padahal, revolusi tak pernah sama dengan dongeng yang sempurna, demikian tulis Goenawan Mohamad [2008].

Mungkin inilah yang menyebabkan dongeng kita tentang tujuan kemerdekaan (bernegara) tak mendekati kenyataan. Padahal, sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, tujuan merdeka adalah mengadakan pemerintahan negara guna melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, tetapi kenyataannya sebaliknya (kemiskinan, kebodohan, kekacauan dan kekerasan) makin merajalela.

Laporan indeks pembangunan…

Kegundahan Sastra Saut Situmorang

Saut Situmorang
Zamakhsyari Abrar - wartaone
http://sautsitumorang.multiply.com/

Jakarta - Saut Situmorang, nama penyair ini, dalam beberapa tahun belakangan mencuat namanya dalam panggung sastra negeri ini. Lewat kritik-kritiknya yang tajam dan keras, ia menyerang Goenawan Mohamad dan kawan-kawan atas apa yang disebutnya sebagai politik sastra Teater Utan Kayu.

Bersama dengan penyair Wowok Hesti Prabowo, sastrawan yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 29 Juni 1966, ini lalu menerbitkan jurnal Boemipoetra, sebuah jurnal yang terbit dwibulanan, wadah tempat mereka untuk menulis dan mengekspresikan tulisan untuk “menyerang” politik sastra Goenawan cs.

Terkait banyaknya reaksi yang kaget ketika membaca Boemipoetra, Saut menilainya hal itu wajar-wajar saja. Menurut pria berambut gimbal ini, selama pemerintahan Orde Baru, seniman kita memang tidak terbiasa berpolitik dalam kesenian.

Apa dan bagaimana Boemipoetra? Bagaimana tanggapan Saut terhadap pernyataan Goenawan yang beberapa wakt…

Blasteran di Mata Pribumi: dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck-nya HAMKA

Wahyudi Akmaliah Muhammad
http://sosbud.kompasiana.com/

I
Sungguh tidak mengenakkan menjadi bangsa yang setengah (baca: blasteran). Di negeri asal ia tak dikenal, di negeri tempat di mana ia tinggal tak diterima. Lebih menyedihkan, perihal dan lakunya yang sekiranya cukup berperan dalam kemajuan negeri, tidak pernah tercatat dalam lintasan sejarah. Begitulah kira-kira gambaran realitas yang terjadi terhadap orang-orang yang terlahir sebagai blasteran, sebuah percampuran darah melalui orangtua yang berbeda bangsa. Sebuah sejarah yang masih menyisakan pertanyaan, satu kisah yang kerap memerlukan eksplorasi lebih mendalam. Sehingga stereotip yang selama ini muncul, tidak hanya bisa diminimalisir, melainkan “dipadamkan”. (Joostr Cote dan Loes Westerbeck: 2004)

Narasi reflektif inilah yang sekiranya terangkum dalam Recalling Indis, sebuah buku yang membuka ruang kembali penulisan sejarah orang-orang blasteran yang selama ini terpinggirkan, yang tidak pernah termaktub dalam sejarah dominan, yan…

Membedah Perlawanan Wong Sikep

Ahmad Rafiq
http://www.korantempo.com/

Kelompok Tonil Kloearga Sedjahtera menggelar kisah perlawanan masyarakat Samin.

Siapa yang ngotot menolak gelontoran investasi pabrik Semen Gresik Rp 4,5 triliun di Pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah? Jawabnya adalah Sedulur Sikep. Sedulur Sikep merupakan kelompok masyarakat Samin dengan stereotipe yang melekat pada mereka sejak zaman penjajahan Belanda: polos dan lugu, tapi semaunya serta cenderung konyol. Mereka membuat investor PT Semen Gresik kabur karena tak kerasan akibat berlarut-larut menghadapi perlawanan penduduk Sukolilo yang menentang dibangunnya pabrik semen dan penambangan kapur di tanah mereka.

Watak masyarakat Samin di Sukolilo melawan penjajah Belanda tetap tak berubah ketika kini menghadapi kekuatan ekonomi yang dikhawatirkan merusak lingkungan hidup mereka. Perlawanan itu diwujudkan dalam perbantahan berupa permainan kata yang terlihat bodoh, pasif, tidak keras, tapi membuat kolonial kerepotan menghadapinya.

Kini kelompok Tonil K…

Sastrawan Peru Diganjar Nobel Sastra

Tri Wahono
http://oase.kompas.com/

Seorang sastrawan asal Peru, Mario Vargas Llosa (74), terpilih sebagai peraih Nobel Sastra 2010 yang diumumkan Kamis (7/10/2010). Selama ini ia dikenal sebagai penulis berbahasa Spanyol yang terkemuka dan beberapa kali dijagokan sebagai penerima Nobel Sastra sebelumnya.

Vargas Llosa telah menulis lebih dari 30 novel, naskah drama, dan esai. Komite Nobel dari The Swedish Academy di Swedia menilai tulisan-tulisannya menampilkan bentuk pemberontakan, perlawanan, dan perjuangan individu yang sangat tajam dan kuat. Sekretaris tetap akademi tersebut Peter Englund bahkan menyebutnya sebagai pencerita berbakat “hadiah Tuhan” yang tulisannya langsung menyentuh kepada pembacanya.

“Buku-bukunya seringkali punya komposisi yang kompleks, punya sudut pandang yang beragam, beragam argumentasi, dan lintas zaman,” ujar Englund. ” Ia juga menyajikan cara baru untuk menghasilkan seni narasinya sendiri,” tambahnya. Sejumlah bukunya pernah mendapat penghargaan sastra di berb…

Malang Benar Nasib Orang Samin

Nur Syam
http://sosbud.kompasiana.com/

Saminisme sebagai sikap agamis memang tidak banyak memberikan peluang kemungkinan pertumbuhan dalam arti kelembagaannya, yaitu ajaran, pengikut dan organisasi. Seperti agama alam lainnya atau semacam agama kesuburan, maka kemungkinan untuk mengembangkan sistem ajaran dan sistem organisasi yang terkait serta pemeliharaan kesetiaan umat tidak dapat dijalankan secara berkelanjutan. Samin merupakan sebutan yang diberikan oleh mereka sendiri untuk menandai adat-istiadat dan tindakan yang mereka nyatakan sebagai berbeda dengan masyarakat di sekitarnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari tradisi, seperti upacara perkawinan, yang mereka sebut sebagai adang akeh.

Pada masa lalu, masyarakat Samin dapat diidentifikasi sebagai masyarakat yang ingin membebaskan dirinya dari ikatan tradisi besar yang dikuasai oleh elite penguasa dan kemudian membentuk persekutuan untuk melawan secara damai dengan menggunakan tradisi rakyat jelata. Tradisi rakyat jelata yang berbeda…

Mario Vargas Llosa Karya Seni Realitas Dunia

Surya Lesmana
http://www.suarapembaruan.com/

Dia adalah novelis asal Peru, yang juga dramawan, esais, dan kritikus sastra penerima penghargaan Nobel untuk Sastra pada 2010 ini. Dia adalah Mario Vargas Llosa, salah satu dari sejumlah penulis di dunia Hispanik. Ia mendapatkan hadiah Nobel untuk karyanya mengenai kartografi dari struktur kekuasaan dalam melawan tekanan, perlawanan, pemberontakan, serta kekalahan individu.

Novel-novel karyanya kebanyakan dibuat di Peru. Teknik penulisan Vargas Llosa banyak dipengaruhi gaya avant-garde, di mana ia menciptakan sebuah karya seni mengenai realitas dunia. Sikapnya tegas dalam menuliskan novel meski fiksi, dan isinya juga bukanlah propaganda ideologi. Ia mengikuti tradisi dari para penulis di Amerika Latin pada masanya, sebagai pengkritik sosial dengan tema tulisan mengenai korupsi politik, machismo (kejantanan), perlakuan rasial, dan kekerasan.

Vargas Llosa lahir di Arequipa (Peru) pada 1936. Pada usia setahun, ia sudah pindah ke Bolivia setelah p…

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com