Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Ben Okri Dan Penyair Tulen

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=340

Penyair dipertentangkan dengan dunia, karena ia tak dapat menerima segala yang tampak sebagaimana apa adanya (Ben Okri).

Penyair hadir dari kegelisahan menggila atas beban lingkungannya; ladang di mana dirinya menemukan benturan hebat, di hadapannya rumusan hidup tiada yang becus, wewarna sengkarut. Namun tatkala melihat langit biru peroleh rongga pernafasannya lega, awan beterbangan sewujud pergerakan sosial, peradaban bertumpuk-tumpuk. Dan saat angin menghampiri didapati abad silam-semilam memberi kabar, lantas turun balik peroleh kekacauan yang sedikit jinak.

Maka diteruskan kembara memasuki gelombang hayati mengendarai ombak perasaan sesama, bertemu tebing curam mata-mata di tengah laluan pun jurang terjal pandangan sinis antar manusia. Ia melangkah seolah tak berjejak juga tiada bayangan, dalam keadaan itulah mengenal kata-kata.

Ia bayang-bayang berlarian dari awan tubuhnya, menggembol kesedihan teramat sangat akan nasib bermakhluk y…

KI HAJAR DEWANTARA DAN PEKERJAAN RUMAH PENDIDIKAN KITA

Janual Aidi
http://janualaidi01.blogspot.com/

…..seperti yang terlihat dari sejarah dan realitas sekarang,
ternyata Indonesia terus mengalami pembodohan secara sistematis.

Prolog

Seingat dan sepemahaman penulis, bahwa dahulu ketika masih duduk berseragam “merah putih” terpampang jelas di kelas gambar para pahlawan-pahlawan bangsa yang berjuang demi merebut kemerdekaan dan meraih kebebasan. Salah satu gambar pahlawan tersebut adalah gambar Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ki Hajar Dewantara bukanlah semata pahlawan yang berjuang dengan senjata tombak, namun ia adalah sosok pahlawan yang memiliki senjata perlawanan baru yakni “senjata pendidikan”. Awal dari manifestasi perjuangan dengan senjata baru tersebut ialah dengan berdirinya Perguruan Nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa). Bukti kontinyuitas dari senjata baru beliau itu, kini sekolah-sekolah sudah masuk ke pelosok-pelosok negeri Indonesia. Menyadari ini, hendaknya semua warga Indones…

”Tertawa” yang Melawan Lupa

Buku Urip Mung Mampir Ngguyu
Muhammadun AS
http://suaramerdeka.com/

FOKLOR menjadi salah satu bilik peradaban yang berkembang luas di kalangan masyarakat Jogja. Salah satu faktornya adalah kenyataan bahwa folklor selain sebagai lelucon ternyata juga dapat berfungsi sebagai kritik sosial maupun melepaskan gerakan perlawanan melalui permainan kata. Hubungan antara folklor sebagai subkultur dengan Jawa sebagai kultur dapat dianalogikan dengan hubungan antara sistem sosial masyarakat dan subsistemnya yang beraneka ragam. Karena hubungannya yang demikian, maka untuk memahami hakikat folklor dan lelucon Jogja, tidaklah mungkin melepaskannya dari sosiologisme humor masyarakat Jawa.

Perlu diketahui, Folklor merupakan sebagian kebudayaan (subkultur) suatu yang kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Soeharto dan Fenomena Politik Kebudayaan

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Sastrawan Sobron Aidit bertemu dengan Ramadhan KH – keduanya telah mendiang – dalam peluncuran buku karya Sobron. Keduanya terlihat sempat berpelukan, segala catatan sejarah kebudayaan termasuk sastra seakan telah pupus dengan keakraban keduanya.

Sekalipun sastrawan Martin Aleida yang semasa mudanya sempat ikut sebagai salah satu sastrawan anggota Lekra, mengatakan di kemudian hari bahwa islah bisa terjadi, tapi penegakan HAM tetap harus dilakukan. Banyak juga keluhan atas ketidakadilan termasuk soal eksistensi berkarya pada masa lalu, yang dibocorkan pada masa pra-reformasi.

“Karya saya tak pernah diikutkan dalam angkatan sastrawan 1966,” papar Sitor Situmorang, budayawan yang juga aktivis LKN – lembaga kebudayaan yang berafiliasi pada PNI.

Yang dituju adalah Taufik Ismail, sang editor. Namun, buku Prahara Budaya adalah kesaksian sekaligus pembelaan Taufik yang juga menjelaskan berbagai konflik politik seputar pra dan pasca 1965 yang …

Debat Ekskul dan Seni Kontemporer

Danarto
http://www.infoanda.com/Republika

Alhamdulillah, akhirnya kita punya film yang bisa dijadikan bahan perdebatan yang asyik, Ekskul, karya Natayo Fio Nuala. Berkali-kali saya memutar ulang adegan perakitan pestol oleh Joshua (dimainkan oleh Ramon Y Tungka) dari vcd yang saya pinjam dari rental. Tak ada dialog, tak pula kedumelan, cukup dengan bahasa gambar.

Adegan itulah satu di antara sejumlah bagian dalam film itu yang ditelusuri oleh para juri Festival Film Indonesia 2006 yang memilih Ekskul sebagai film terbaik, dan para sineas yang menentang keputusan juri itu.

Setelah perakitan pestol selesai, tampak Joshua menatap sebutir peluru yang lalu memasukkannya ke magasin pestol. Bagi para juri, itulah peluru baru hasil rakitan Joshua. Sedang para sineas meyakini, itulah satu-satunya peluru yang menyertai pestol ketika Joshua membelinya dari pedagang senjata.

Yang jadi masalah bagi para sineas, memiliki satu peluru, namun Joshua meletuskan pestolnya dua kali. Ini janggal. Sedang bagi j…

Kebenaran di Balik Kabut

Mahdi Idris *
http://blog.harian-aceh.com/

DI daerah perang, kebenaran selalu tersembunyi di balik kabut. Tak ada yang dapat terungkap secara jelas mengenai berbagai hal yang terjadi di sana. Masing-masing pihak membenarkan diri sendiri, seolah merekalah yang terbaik di antara lawannya. Bahkan di antara para korban yang tak bersalah, selama peperangan itu terjadi.

Begitu pula halnya yang digambarkan oleh Ayi Jufridar dalam novel ini, seorang jurnalis dan penulis Aceh (Lhokseumawe) yang telah sukses dengan novelnya yang pertama, “Alon Buluek (Gelombang Laut Yang Dahsyat),” mendapat juara III pada sayembara menulis novel remaja kerjasama penerbit Grasindo dan Radio Naderland Seksi Indonesia pada 2005 lalu.

Dengan gaya berceritanya yang memikat, ia mampu mengungkapkan kondisi perang dan sesuatu yang melatarbelakangi terjadinya konflik bersenjata tersebut. Walaupun ia tidak sekali-kali menyebutkan bahwa setting novelnya ini di Aceh, namun, begitu pembaca memerhatikan dengan saksama, akhirnya …

“Film Yogya” Dilacak Sejak FKY XV 2003

Ken Rahatmi
http://www.kr.co.id/

Enam film karya pelajar dan 19 film bikinan mahasiswa/umum, mendaftar di Festival Film Video FKY XV-2003. Dari sejumlah film buatan Yogya, Purwakarta, Solo dan Semarang itu, diambil lima film terpilih dari masing-masing kategori. Saat pemilihan di TVRI Yogyakarta inilah muncul gagasan “Kenapa musykil, suatu ketika muncul Film (Independen) gaya Yogyakarta?”

FESTIVAL Film pertama di Yogya —yang disepakati lebih berupa “pesta bersama”-ini, tidak memakai idiom “independen”. Lugas saja, panitia ‘lomba’ sejak jauh hari mencanangkan label “Festival Film Video”. “Supaya tidak terjebak oleh perdebatan panjang tentang jabaran Film Independen” kata Bambang JP, Seksi Film FKY XV-2003.

Toh demikian, di sela-sela kriteria penilaian yang dipatok —(sinematografi, directing, cerita, tata-artistik, editing)- tetap ada sejumlah hal yang berkait dengan kemandirian missi dan produksi, perlawanan orisinalitas dan kreativitas, serta penekanan substansi dramaturgi, menyelinap di …

BEYE, LURAH BANCI

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Orang-orang telah garang karena banyak ketimpangan yang terjadi. Kelurahan tetangga terus menyusup ke halaman. Kadang merembes ke hijau sawah pertiwi. Mencuri ketimun atau kangkung. Mereka, Kelurahan Maling itu menggunakan tangan petani, menginjak padi yang merunduk. Mengambil segala yang bisa diambil. Seperti perompak dalam cerita-cerita bajak laut Wilayah Barat. Petani kelurahan tetangga mencuri, petani Kekurahan Luruh Indon menahan lapar yang sangat. Pencurian itu membuat petani di Kelurahan Indon meradang. Merah membara. Mengasah senjata dan berteriak-teriak kesetanan mengajak perang. Para petani tidak terima atas penghinaan kelurahan tetangga. Menginjak harga diri Kelurahan yang diperjuangkan dengan segenap tumpah darah seluruh rakyat Luruh Indon.

Kemarahan memuncak. Sebatas kemarahan petani yang memegang cangkul dan sabit. Bukan kemarahan pejabat kelurahan yang mampu melempar granat pembelaan. Sore menjadi pagi. Menghantarkan kemarahan. Pagi…

DEMO

Arie MP Tamba
http://www.sinarharapan.co.id/

Buruh menginginkan perbaikan upah minimum dan tunjangan lembur. Para mahasiswa menginginkan pergantian penguasa. Para aktivis lingkungan menginginkan pergantian menteri lingkungan hidup yang memiliki visi lingkungan sehat. Para pekerja profesional yang menggelar demonstrasinya di depan Bursa Efek mengharapkan adanya ketegasan pemerintah tentang arah kebijakan ekonomi, tegaknya supremasi hukum, dan ”pembersihan” para politikus dari rezim lama….

”Gawat! Seluruh penjuru kota kini tercekam oleh demo, demo, dan demo!”

”Dan jangan lupa. Ada puluhan ribu massa yang mulai mendekat ke arah perkantoran kita… Hallo? Hallo?!”

”Iya, apa lagi? Sudah menemukan narasumber?”

”Narasumber banyak, Pak. Beberapa sudah saya wawancarai, termasuk para mahasiswa dan wartawan yang terkena peluru nyasar. Saya nanti akan mengerjakannya di rumah. Tapi sekarang saya dan teman-teman wartawan lainnya sedang membentuk lingkaran pertahanan…. Dengar-dengar banyak sniper yang senga…

Menengok Teater Pembebasan di Indonesia

Hasta Indriyana
http://www.suarakarya-online.com/

Teater menunjukkan satu konsep bahwa ia sesungguhnya adalah segala macam peristiwa yang terjadi di atas pentas yang mengandung cerita, dipertontonkan dan dilakonkan oleh pemain (aktor). Teater merupakan suatu kesatuan yang diciptakan oleh pemain, pengarang cerita, dan penonton (Asrul Sani). Definisi di atas mengandung pengertian adanya proses kolektif dalam sebuah pengalaman kelembagaan (organisasi), kaidah berkesenian (artistik), dan orientasi proses (idiologi), atau Organisasi-Artistik-Orientasi (OAO). Pengertian teater di atas penting dalam hubungannya dengan paparan Teater Pembebasan (TP) di Indonesia di bawah ini.

Ngomong tentang TP berarti berbicara tentang pendidikan, sebab ia sebenarnya media pendidikan bagi rakyat. Itu artinya mau tak mau mesti menyinggung Paulo Freire. Pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan yang menjadi wadah pembebasan kesadaran atas suatu realitas yang didominasi oleh elite politik. Kesadaran yang dimak…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com