Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

POTRET GANDA NAYLA—DJENAR MAESA AYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Djenar Maesa Ayu lewat dua antologi cerpennya, Mereka Bilang, Saya Monyet! (2003) dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004), tak pelak lagi, telah berhasil menjejerkan namanya dalam deretan penting sastrawati Indonesia. Ia juga mengambil posisi khas yang domainnya tak banyak dimasuki sastrawan Indonesia lainnya. Kini, ia meluncurkan novel pertamanya, Nayla (Gramedia Pustaka Utama, 2005, 178 halaman).

Dalam Nayla, Djenar bagai berada dalam ruang yang membuatnya bebas bergerak. Ia leluasa mengumbar kemampuan teknik berceritanya. Ia bebas memanfaatkan tokoh-tokohnya untuk kepentingan dan tujuan apapun, termasuk untuk menumpahkan pesan ideologisnya tentang jender. Bahkan, posisi kepengarangannya sendiri merasa perlu dilegitimasi lewat tokoh rekaannya. Nayla ibarat sebuah pentas teater yang sutradaranya bisa seenaknya keluar-masuk dalam setiap babak atau adegan yang sedang berlangsung.

Begitulah, ketika pengarang merasa perlu menyampaikan pe…

Derabat

Budi Darma
http://sastra-indonesia.com/

Di desa saya ada seorang pemburu bernama Matropik. Sebenarnya dia bukan penduduk asli. Dia pendatang entah dari mana, dan dia masuk karena di tempat-tempat lain dia sudah tidak mungkin berburu, dan semua sudah mati di tangan dia

Sekarang, di desa saya, dia sudah mulai gelisah. Segala macam binatang sudah hampir punah. Dan kami, penduduk asli, dalam hati mengharap ia agar dia segera enyah.

Memang, sebenarnya , semenjak dia datang, kami sudah membenci dia. Kami membenci dia bukan karena kami adalah orang-orang yang tidak baik, tapi karena dia selalu menciptakan suasana yang tidak enak. Perilaku dia sangat kejam Dalam berburu, dia tidak sekadar berusaha membunuh, namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka, begitu banyak binatang telah menderita berkepanjangan, sebelum akirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus.

Bukan hanya itu. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar…

Seseorang dengan Agenda di Tubuh

Pringadi Abdi Surya
http://suaramerdeka.com/

(1)
BIASANYA, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukan mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi yang meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarah ke siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan: sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi mengembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.

Ini sudah korban yang kesebelas. Tidak seperti cerita-cerita yang umum terjadi, saya tidak butuh topeng darah misterius yang bikin saya jadi gila. Saya juga tidak memiliki kepribadian ganda atau motif biasa seperti untuk…

Sebuah Ihtiar Renjana-Reproduksi

Zaki Zubaidi
http://www.seputar-indonesia.com/

Menulis sastra membutuhkan kesetiaan. Untuk menjaga kesetiaan ini masing-masing individu (penulis sastra) memiliki kecenderungan yang berbeda.
Ada yang menjaga kesetiaan itu melalui sebuah kesendirian. Tapi ada juga penulis yang menjaga kesetiaan itu secara komunal.Hal ini memang sangat bergantung pada proses perkenalannya dengan sastra. Seseorang yang lahir dari hasil sharing komunitas maka karyakaryanya akan mempengaruhi sekaligus dipengaruhi anggota komunitas yang lain. Komunitas sastra mutlak dibutuhkan untuk menjaga iklim kesusastraan yang dinamis.

Sebuah lembaga pendidikan yang melabeli dirinya jurusan sastra pun tidak cukup mampu menyangoni mahasiswanya untuk menjadi kritikus maupun penulis sastra.Keluaran terbesar dari lembaga pendidikan itu tidak lain adalah guru, dosen, atau pengajar lainnya.Komunitas sastra pun lahir di tengah-tengah kegelisahan mahasiswa mencari orientasi masa depannya. Namun Surabaya adalah sebuah kota yang berge…

Firasat

Ilham Yusardi
http://www.harianhaluan.com/

(I)

“Niar, kau lihat hape?” Bahar menyonsong istrinya di dapur. Niar mengaduk minuman pagi suaminya itu. Niar menoleh, menangkap suaminya menyembul separuh badan di pintu. Niar agaknya sedikit heran dengan kelabat lakinya.

“Hape Uda? Tidak. Biasanya sebelum tidur, Uda taruh di lemari kamar. Tentu masih disitu.” Tidak biasanya, pagi-pagi ia menanyakan hape. Lagi pula hape yang dibelikan Lara, putri tunggal mereka yang sekarang bekerja di ibu kota, memang jarang berbunyi. Hape itu baru seminggu di tangan Bahar. Ia sangat senang. Menangis mene­rima hape itu dari tangan Lara. Menangis bukan karena hapenya, tapi Bahar terharu, sebab itulah pemberian pertama Lara dari hasil jerih peluhnya bekerja. Ia bangga dengan pemberian itu.

Hape itu diberikan waktu Lara pulang, saat Lebaran. Mereka tiga beranak tertawa gembira dan suka cita dalam gurau di rumah, sewaktu Lara mengajarkan Bahar cara memegang hape, cara memencet tombol-tombol yang kecil. Mak­lumlah, p…

BUTON, PUISI DAN SEKANTONG LUKA

Sarabunis Mubarok
http://sastra-indonesia.com/

Selain aspal, tak banyak orang tahu tentang Buton -salah satu daerah di Sulawesi Tenggara. Buton masa lalu tercatat dalam Negara Kertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah kuno itu, negeri Buton disebut dengan nama Butuni, yang merupakan sebuah desa tempat tinggal para resi yang dilengkapi taman, lingga dan saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. Buton yang pernah berjaya sejak abad 15, di masa Buton menjadi wilayah kesultanan yang berlangsung ± 600 tahun, hingga akhirnya menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1959.

Dan di akhir bulan Juni 2010, tiba-tiba Buton dibicarakan banyak orang pada forum-forum diskusi di Yogyakarta, Tasikmalaya dan Jakarta. Sebuah antologi puisi berjudul Buton, Ibu dan Sekantong Luka yang diterbitkan Frame Publishing, Yogyakarta, membawa suara nyaring namun mengiris hati. Adalah Irianto Ibrahim, seorang penyair muda dari Kendari datang dari masa lalu se…

Profesi yang Terlupakan

Aguk Irawan MN
http://cetak.kompas.com/

Novel spektakuler Harry Potter tidak akan bisa dinikmati jutaan penggemar novel di Indonesia bila tanpa melalui proses penerjemahan. Berita-berita internasional yang berasal dari berbagai belahan dunia bisa dinikmati pembaca dalam negeri juga tidak terlepas dari jasa penerjemah.

Bisa dibayangkan, tanpa penerjemahan buku-buku berbahasa Inggris atau kitab-kitab berbahasa Arab, masyarakat akan kesulitan mengerti isi dari suatu buku atau kitab.

Namun, tahukah Anda, siapa yang berjibaku di balik penerjemahan karya JK Rowling sehingga karya itu bisa booming dan dinikmati jutaan orang di negeri ini. Siapa pula yang berperan besar dalam penerjemahan buku berbahasa Inggris atau kitab berbahasa Arab itu?

Pertanyaan seperti ini patut diajukan sebab harus diakui apresiasi masyarakat di negeri ini cenderung melupakan jasa seorang penerjemah. Hal ini bisa dibuktikan ketika karya terjemahan booming, penerjemahnya tak ikut terserempet rezekinya. Di dapur penerbit, s…

Sang ‘Mata Kiri’ yang Mengembara

Sutardji Calzoum Bachri / Wawancara
Republika, 19 Agustus 2007

Untuk membuat janji wawancara dengan Sutardji Calzoum Bachri, ternyata tak mudah. Saat pembicaraan awal Senin (13/8) lalu untuk minta kesediaannya, dia menyediakan waktu Rabu (15/8) malam, dua hari berselang. Tapi sebelum pembicaraan melalui telepon genggam itu terputus, ia mengingatkan agar menelepon kembali sebelum waktu yang sudah ditetapkan.

Rabu itu, sebagaimana kesepakatan awal, telepon genggamnya yang berulang kali dihubungi tak pernah tersambung. Dari seberang memang terdengar nada sambung, tapi tak ada sahutan.

Namun, Asrizal Nur, rekan dekatnya, meyakinkan pada komitmen Sutardji, meski tidak seperti pada pembicaraan sebelumnya untuk menelepon lebih dulu. ”Datang saja. Dia pasti ke TIM (Taman Ismail Marzuki),” kata Asrizal Nur, ketua Yayasan Panggung Melayu, lembaga yang baru saja sukses menggelar Pekan Presiden Penyair, sebuah hajatan menghormati 66 tahun perjalanan hidup Sutardji.

Asrizal, yang saat itu berada di Pek…

Menjawab Tantangan Guru

Batam Pos, 27 Des 2009)
Judul buku : Menjelajah Pembelajaran Inovatif
Penulis : Dr. Suyatno, M.Pd.
Penerbit : Masmedia Buana Pustaka
Cetakan : Oktober 2009
Tebal : viii +176 halaman
Peresensi : Salamet Wahedi *

Memperbincangkan pendidikan dewasa ini, seperti menelisik setiap sendi kehidupan manusia. Peranan dunia pendidikan tidak hanya sekadar mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral membentuk manusia seutuhnya. Yaitu manusia yang mampu memahami dirinya sendiri.

Terlepas dari peran-fungsinya bagi setiap manusia, dunia pendidikan juga menjadi cerminan bagi survivenya suatu Negara-bangsa di tengah kancah pertarungan globalisasi. Maupun sebaliknya, kemajuan suatu Negara-bangsa juga dapat diukur sejauh mana dunia pendidikan yang dibangun di dalamnya. Dengan kata lain, dunia pendidikan menjadi barometer suatu Negara-bangsa dalam membaca dan melihat posisinya.

Maka tidak heranlah, sepanjang sejarah Negara-bangsa Indonesia, persoal…

Puisi-Puisi Joko Pinurbo

Kompas, 21 Maret 2010
Embun

Subuh nanti aku akan jadi sebutir embun
di atas daun talas di sudut kebun.

Pungut dan sembunyikan di kuncup matamu
sehingga matamu jadi mata embun.
Atau masukkan ke celah bibirmu
sehingga bibirmu jadi bibir embun.

Sabar…, aku harus pergi dulu menjenguk
seorang bocah perantau yang sedang tertidur pulas
di bawah pohon besi di sudut kotamu.
Aku akan menetes di atas luka hatinya
yang merah menganga sampai ia terjaga:
“Terima kasih, telah kausangatkan perihku.”

Mungkin aku tetes terakhir dari hujan semalam
yang belum rela sirna sebelum bertemu
dengan ibusunyi dari bocah perantau itu.

Mungkin kau hanya akan memandangiku berkilau
di atas daun talas di sudut kebun
sampai aku menguap, lenyap, ke cerlap matamu.

(2010)



Orang Gila Baru

Sesungguhnya saya malas membaca sajak-sajak saya sendiri.
Setiap saya membaca sajak yang saya tulis, dari balik
gerumbul kata-kata tiba-tiba muncul orang gila baru
yang dengan setengah waras berkata,
“Numpang tanya, apakah anda tahu alamat rumah saya?”

Kuantar ia …

Puisi-Puisi Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Syair Penulis Tua dan Mesin Tik

Tidakkah kau tahu di balik tirai mata ini
Tersimpan harmoni hidup; memberi tanpa meminta.
Engkau adalah kekasih dalam dunia kisahku
Kita menari berdansa mencipta kata dan bahasa.

Kesendirian oh kesendirian ini
Karna waktu telah berubah

Dan
Ketika air mata pecah kau pergi menjauh aku sendiri mengurai mimpi
Menyala bagai pelita.

November 2010



Akulah Perempuan

Seperti rajawali terbang lepas
Menatap mengabarkan kisahnya kepada dara-dara yang dewasa.

Bahwa aku perempuan terlupakan.

Terbiasa dengan bahaya dunia menangis tanpa derai air mata
Karena cintaku hanya kehidupan bukan untuk meminta rawatan

Akulah perempuan karya diberkati cinta
Menjelma berganti rupa tundukkan duka derita

Dengarlah
Kusampaikan padamu kisah hidupku tentang dara dan cinta tanpa duka atau derita hidup ini.

Karena aku adalah perempuan.

November 2010



Aku Masih Ingat

Ini malam dingin sekali kita tumpahkan segala rindu
di bangku putih tempat biasa asmara terurai,

Cerita tentang esok…

Kau p…

Pengakuan Djenar Maesa Ayu

Sandipras
http://warisanindonesia.com/

Mengaku mengidap obsessive compulsive disorder (OCD), Djenar Maesa Ayu menolak kesuksesannya dalam dunia sastra dan film dikait-kaitkan dengan mendiang sang ayah, sutradara Sjuman Djaja.

Empat belas lelaki baru saja selesai mengeroyok Djenar Maesa Ayu awal tahun ini, lahirlah antologi 1 Perempuan 14 Laki-Laki yang dalam tempo singkat sukses menarik peminat sastra negeri ini. Khalayak terpincut melihat daftar nama: Sardono W. Kusumo; Indra Herlambang; Agus Noor; Sujiwo Tedjo; Butet Kartaredjasa; hingga JRX (baca: Jerinx), musisi punk yang jauh dari gempita sastra, ikut menulis dengan gaya masing-masing.

Seolah belum puas merasakan “orgasme” buku tersebut, Djenar sudah kembali “asyik-masyuk” dengan novel terbarunya, Ranjang. Toh, waktunya tidak melulu habis membangun alur cerita novel yang direncanakan terbit tahun depan itu.

Tiba-tiba ia terlibat jadi penulis naskah film It’s Takes to Two Tattoo. Jadwal rapat ini-itu, tawaran ini-itu, sosialisasi ini-i…

Manunggaling Kawulo-Gusti

Theresia Purbandini
Jurnal Nasional, 14 Sep 2008

ABDUL Hadi WM pernah melahirkan kumpulan puisi yang begitu pekat diwarnai pemikiran tasawuf Islam. Kumpulan puisi tersebut, Meditasi, memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Lalu, bukunya yang juga banyak mendapat perhatian, Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh, melukiskan kecenderungan pemikiran sufistiknya.

Menurut penyair Yonathan Rahardjo, gaya sufistik ini juga disosialisasikan oleh Abdul Hadi WM yang mengembangkan pengaruhnya pada tradisi penulisan puisi 1970-1980an. Ia bersama Kuntowijoyo dengan sastra profetik dan sastra transenden, Emha Ainun Nadjib dengan estetika kaffah, Danarto dengan cerpen-cerpen Islam kejawen, Darmanto Jatman dan Linus Suryadi AG dengan estetika Jawa, serta Wisran Hadi dengan estetika Minang, Taufiq Ismail dengan sajak-sajak sosial-religiusnya — sama-sama mengembangkan estetika sastra yang kemudian dikenal sebagai sastra sufistik.

Pendapat Yonathan ini didukung oleh penyair Akhmad Sekh…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com