Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2011

Meledek Penyair, Menghormati Puisi

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Aziz, Yusri Fajar, Denny Mizhar berfoto-foto dengan latar pendar-pendar kembang api pada malam tahun baru 2011 di lapangan rektorat Universitas Brawijaya, Malang. Nanang Suryadi, tak tahu kemana, mungkin ia suntuk menulis puisi di akun facebook-nya tentang sejauh apa kembang api dan puisi dapat memberi inspirasi bagi masyarakat untuk mulai menata harapan di awal pergantian tahun.

Malam itu, sebelum kembang api dibakar, Yusri dan Nanang membacakan dua puisinya di atas pentas gelar budaya untuk menyambut awal pergantian tahun. Denny sibuk menuruti permintaan Yusri dan Nanang untuk merekam dan memotret keduanya dengan kamera warna merah yang sepertinya selalu tersimpan di kantong jaketnya. Aziz duduk mengamati ketiganya, senyum sendiri, dalam hati ia meledek: Yusri dan Nanang, potret dan video yang kelak akan terpajang pada album foto maupun video dalam situs jejaring sosial facebook, akan menampung hasrat narsistik seorang penyair untuk membek…

Sri

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah surut. Konon ceritanya yang menggali lubangnya bernama Syawal. Hingga sumur itu diberi nama sumur Syawal. Atau mungkin dalam dugaku lubang sumur itu di gali waktu bulan syawal.

Matahari tepat di atas kepala. Cahayanya menembus genteng kaca rumah. Aku keluar dari rahim Ibuku. Aku tak lekas dibersihkan, darah masih menempel di kulitku. Sebab tak ada orang yang tau. Di rumahku hanya Ibuku sendiri yang berjuang hingga aku keluar dari rahimnya. Baru ketika ada tetangga lewat di depan rumahku sepulangnya dari sholat Istisqa’di sawah. Sholat meminta hujan pada Tuhan agar segera diturunkan. Dan …

Sigi ‘Piningit’

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

INI adalah masa sulit hidupku. Melewati dua belas tahun usiaku, menjadi petaka bagi ruhaniku yang haus pengetahuan. Saatnya kutinggalkan semua kenang di puri kebijaksanaan. Dipaksa usai memamah hikmah menjadi duka yang tak ku suka. Saat paling mengerikan yang tak pernah kuharapkan kehadirannya. Aku harus berdiam di balik tembok-tembok keangkuhan adat yang menandaskan seluruh cita. Menaati tradisi yang tak kumengerti.

Akan kuhapus kelebat rasa yang membuatku duka. Saat aku dan teman-temanku yang berkulit putih menumbuk biji-biji pemahaman dari guru-guru kami yang bestari. Bagi teman-teman wanita sebangsaku, yang dipasung rigit tradisi, mendedah ilmu tidak mengundang keriaan. Tapi bagiku, yang telah diajarkan menatap dan merasai indahnya cahaya mentari, meninggalkan jendela pengetahuan laksana mandapati gerhana purna.

Apalah arti siang hari, jika surya tertutup bayang-bayang bumi.

Aku merana seorang. Sekelilingku tak memahami dukaku. Bagaimana aku aka…

SISWA DAN ASPEK PEMBELAJARAN DRAMA

Yusri Fajar
Seputar Indonesia 4 Feb 2007

Drama adalah karya sastra yang menggambarkan aktivitas kehidupan manusia yang dalam penceritaannya menekankan dialog, laku dan gerak. Meski drama adalah karya sastra yang bisa dibaca dan dianalisa secara tekstual karena menggunakan medium bahasa dalam penciptaannya, namun drama pada dasarnya ditulis untuk dipentaskan di atas panggung (stage). Oleh karena itu, dalam teks drama, selain terdapat unsur dialog sebagai penanda alur cerita, pembaca juga akan menemukan gambaran ekspresi dan laku (stage direction) yang ditulis pengarang untuk memberikan gambaran kepada para pembaca, calon aktor, dan juga sutradara tentang tingkah laku, ekspresi, gerak dan juga mimik tokoh-tokoh dalam drama.

Collie (1997) menyatakan bahwa memberi kesempatan kepada para siswa secara berkelompok untuk mementaskan teks drama akan membawa mereka pada sebuah pengalaman yang menarik dan menyenangkan karena pada dasarnya siswa senang dengan pementasan yang di dalamnya melibatkan u…

Puisi itu…! Menerjang Pecundang

Sabrank Suparno

Detik detik penutupan serangkaian acara Gebyar Pesta Seni Rakyat Jombang yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jombang (DeKaJo) beserta lembaga terkait di gedung PSBR, dipungkasi dengan pertunjukan Teatrikalisasi-Puisi-Musik persembahan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang angkatan 2009. Pementasan sesi pertama digelar pukul 15:30 dan pementasan ulang pukul 19:00, dengan 4 judul puisi sekaligus: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya WS. Rendra, Menghisap Kelembak Menyan karya Emha Ainun Nadjib, dan terahir MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesi karya Taufik Ismail.

Seperti ada serabut di tempurung kepala penonton. Kalau pun tidak, pasti ada gumpalan di rongga dada yang pada saatnya akan meledak. Seminggu, semenjak acara berlangsung, saya kerap klitar kilter hingga larut menyaksikan seluruh pementasan di gedung itu. Dan ketika sekitar jam 2:00 siang, seluruh mahasiswa tampak melakukan persiapan di pelataran masji…

Skenario Salju

Heri Latief

seorang teman di fb bilang arti salju itu salah jurusan. sebenarnya kita lagi ada di jurusan anti kemapanan, tapi kayaknya perhatian dialihkan ke arah bolamania. ya gapapalah, dihibur oleh kemenangan di lapangan bola, lagian kita perlu semangat yang merakyat, perlu musuh bersama.

o gitu ya? baru tau. sekarang ini kita gak punya musuh bersama. lain waktu dulu itu, 12 tahun yang lalu, pecahnya sang telor busuk, lalu bersatunya semua kekuatan rakyat. demi cita cita keadilan sosial buat semua bangsa indonesia. rakyat menuntut keadilan hukum akibat dari dari penderitaan trauma sejarah.

12 tahun yang lalu harapan ditanam dalam sanubari orang yang percaya pada demokrasi. hasilnya hari ni adalah kembalinya karakter kekuasaan yang tak memihak pada rakyat.

seorang teman fb bilang skenario dari lingkaran satu istana adalah mempertahankan kekuasaan selama-lamanya, jika perlu bikin saja kerajaan yang seolah olah republik, uangnya toh berlimpahan, siapa yang gak ngiler dimanjakan kemewahan …

Sajak-Sajak Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Di Gaza Kami Rindu LemahlembutMu

di jalur ini
telah berabad-abad rakaat
kami rindu KemahalemahlembutanMu

melalui anak-anak manjaMu
melempari kami dari segala penjuru
dengan berbagai alat pemusnah
paling mutakhir

di jalur ini
telah lahir begitu banyak ratapan
ketika kehilangan demi kehilangan
menjadi mimpi selalu kami temui
dari kelam ke kelam

apakah kami benar-benar bebal
hingga tak dapat menangkap
isyarat kekerasanMu
selalu Engkau timpakan
selama berabad-abad khianat
diantara ratap-ratap
pada jalur-jalur pengap
oleh kefakiran kami

Januari 2009



Poster-Poster 2009

ini tentang wajah-wajah
terpampang ramah
di pinggir-pinggir jalan dan tempat keramaian
dengan akting paling rupawan
berharap-harap sekali tikaman
di bagian manapun yang paling aman

ini tentang wajah-wajah
terpampang murah
di pinggir-pinggir jalan dan tempat keramaian
dengan slogan-slogan semanis durian
berharap-harap sekali tusukan
buat nangkring di kursi nyaman

ah, ini hanya tentang muka-muka
dengan senyum paling ceria
seperti bersen…

Sajak-Sajak Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Syair Ini Untukmu, Sasmitha

Serpihan waktu kita giring menuju sebuah rumah melewati lorong setapak jalan berbatu
Di kanannya tembok kokoh cat putih berlumut, bermulut, dan tak bertelinga
Di sebelah kiri berpagar bilah, ada pohon kapuk dan mangga. Di ujung jalan itu, nampaklah sebuah pelita yang menjadi pertanda sudah dekat akan kediaman yang kita idamkan sejak lama.
Semakin dekat terasa kian jauh, karna menanjak tebing. Kau meminta istirahat sejenak
Berpikir dua kali aku jadinya; bersandar pada tembok atau berteduh di bawah pohon mangga?
Tatapanmu bertanya
Aku tersenyum memandang sambil kuseka keringat di keningmu.
Kau pun lakukan yang sama terhadapku.
Lalu menggelegaklah semangat, kiri atau kanan memang pilihan. Sebab itu kita tempuh perjalanan ini.
Sasmitha, kau dan aku adalah anak zaman yang menepis garangnya warisan masa lalu
Mencoba melawan dengan tangan, kertas, dan percakapan di tengah iklan dan berita yang berlomba saling menjelas-jelaskan.
Kita lanjutkan langk…

Barka

Siti Sa’adah
http://sastra-indonesia.com/

Jika hatimu pernah dipalu godam oleh seseorang, dengan beringas dan dia sama sekali tidak peduli kondisimu saat itu apakah kamu tidak akan merintih perih? Kemudian dengan susah payah kau lap air mata yang tak berkesudahan dan akhirnya lelah. Lelah merasa merana. Lantas hanya tekad yang mencuat: tidak akan ada lagi tentang lelaki itu dihidupmu.
***

Dia kembali setelah menebas habis segala rasa bahagia dihatiku. Menyeretnya dengan kasar kemudian menimbunnya ke dalam bumi masa lalu seperti mengubur bangkai anjing, menginjak-injak dengan jijik. Setelah puas dia enyah di pelabuhan harapan yang entah.

Kawan-kawanku menjelma ranting yang berusaha menjeratku kembali dengannya. Rupanya mereka menyayangkan kisah yang punah. Dan ingin menemaniku bermesrah lagi, tentu saja dengan lelaki itu. Lelaki yang membongkar percintaan yang lanjur dikremasi. Dia merajuk mengusung bangkai kemesrahan, gunungan sesal dan memintaku untuk menerimanya. Bagaimana jadinya, luang…

Ketika Obor Menyala

Liestyo Ambarwati Khohar
http://sastra-indonesia.com/

Cemloteh ringan tawa anak-anak mengiringi tarian Api diatas obor-obor yang baru saja dinyalakan. Sementara di sudut dan lekuk tiap kampung, gema tabkir terus saja menggema membentuk ritme merasuki jiwa siapa saja pendengarnya.

Lebaran selalu seja melahirkan suasana melankolis dan romantis terhadap Tuhan ataupun kita sesama manusia seperti tahun-tahun sebelumnya aku melewati lebaran di rumah induk. Rumah dimana aku dilahirkan, dibesarkan. Serta ditumbuh dewasakan.

Diruang tengah dengan aroma “Bunga sedap malam” yang merebak dan kue-kue lebaran yang sudah tertata di tiap-tiap meja, aku masih saja suka melihat foto keluarga dengan figora yang kokoh, sehat dan kaca terawat yang terpanjang di ruang tengah. Terlihatlah Alm ayah di foto dengan gagah dan kumis garangnya, dan alm ibu dengan kerudungnya yang anggun dan disebelah kanan kiri mereka adalah aku dan mbakyuku poninten.

Takbir terus saja menggema atmosfer lebaran semakin terasa, dan sem…

Jiwa-jiwa Merpati yang Lara

Endah Wahyuningsih
http://sastra-indonesia.com/

Aku adalah Rosita Angraini,kekasih Roi Pramudya. Sesosok pemuda tampan yang begitu dikagumi oleh kaum wanita namun mempunyai sifat angkuh dan tak pernah mau peduli dengan perasaan orang lain.Sedangkan Saskila adalah kekasih Roi yang dahulu dan kini telah meninggal karena sebuah penantian pahit yang tak bisa ia lalui seorang diri. Tanpa Roi Pramudya. Saskila begitu mengaguminya namun baginya sudah tak ada harapan, karena sifat Roi yang begitu egois, acuh dan tak pernah mau mengerti tentang perasaan orang lain. Tapi Saski tetap setia, selalu berusaha memahami karakter kekasihnya dengan menanti sebuah harapan yang tak jelas. Hingga akhirnya jiwa merpati yang lara itu mulai lemah dan putus asa kemudian memilih mati tenggelam disebuuah lautan.

Disebuah pantai kujumpai Roi seorang diri.kulihat ada sedikit gundah yang tengah mengusik fikirannya. Kuhampiri dia sembari kutepuk pundaknya.memang sudah kuduga bahwa ia akan mengabaikanku dan kenyataan y…

Jakarta

Fathurrahman Karyadi
http://sastra-indonesia.com/

Angin sepoi-sepoi menyibak rambutku tanpa izin. Menyapu muka hingga kelopak mata. Menyegarkan, kawan. Telingaku bising. Bunyian kereta terdengar amat nyaring. Apalagi kini aku tengah di atasnya. Di luar jendela sana pemandangan asri terus berganti. Sayang aku tidak bisa menikmati dengan jelas karena kereta terus berjalan.

Sementara di sampingku semua orang terlihat sibuk. Beratus-ratus jiwa dalam satu tempat. Ada yang berjualan mencari pelanggan, ada juga yang panik belum dapat tempat duduk. Meski keadaan sumpek dan ruwet seperti ini, aku tetap gembira. Sebab sore ini aku pulang ke Jakarta.

Lama sudah aku hidup di Jawa. Terhitung sejak lulus SD hingga di janggutku tumbuh rambut. Mungkin sekitar enam tahun-an. Kangen rasanya aku pada Jakarta dan, segala yang ada di sana. Mulai tempat wisata, hiburan, peribadatan, sampai makanan khas gado-gado yang lezat itu. Tak sabar aku ingin segera tiba. Seandainya aku adalah masinis kereta niscaya akan …

Antara Banaspati dan Mbah Jarmi

Vyan Taswirul Afkar
http://sastra-indonesia.com/

Langit belum terlalu gelap, Matahari masih menampakkan ujung kepalanya di cakrawala. Mega merah berjajar di ufuk barat kampungku. Burung-burung kelelahan belum sampai sarangnya. Bahkan, kelelawar hanya belasan yang sudah berterbangan di langit pasca senja. Tetapi di RT-ku ramai sekali. Bukan karena ada konser dangdut kawinan anak Pak Lurah seperti kemarin, melainkan salah satu rumah terbakar. Rumah itu adalah rumah Mbah Jarmi.

Para bapak berlarian membawa ember-ember berisi air yang digunakan untuk memadamkan api yang menjulurkan lidah-lidah keemasannya pada tiap bambu-bambu penyusun rumah Mbah Jarmi. Mas Hendi bahkan sampai melemparkan air sekaligus embernya. Tetapi tidak satupun orang yang menertawakannya. Karena semua yang ada di situ saat itu pasti meraskan hal yang serupa dengan Mas Hendi.

Ibu-ibu berteriak histeris hingga melupakan anak yang digendongnya. Aku yang melihatnya dari jauh masih bias merasakan panas menderu ke tubuhku. Abu…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com