Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Festival Puisi Weltklang, Berlin

Ketika Puisi Masih Dipercaya
Dorothea Rosa Herliany
http://www2.kompas.com/

PENGARANG Jerman, Wolfgang Borchert, pada Oktober 1947, pernah menulis manifesto antiperangnya yang terkenal, “Maka, hanya ada satu pilihan. Katakan Tidak!” (dann giht es nur eins! “sag nein!”). Kemudian hari-hari berlalu dan suatu hari aku datang di negeri itu. Aku habiskan waktu dengan menyusuri jalan-jalan di Berlin. Sampai Tembok Berlin itu juga: bilakah dulu jadi lambang kebebasan manusia? Betapa kini sudah tak tampak lagi jejak-jejak perjuangan manusia melawan tirani politik dan kekuasaan itu. Tapi, bisa jadi inilah wujud kebebasan itu, Berlin yang bebas, yang dipenuhi lalu-lalang para turis dan deretan toko-toko suvenir di sepanjang jalannya.

Diam sebagai Puncak Perlawanan

Tjahjono Widarmanto
http://www.suarakarya-online.com/

“Kita telah melawan,
Nak, Nyo, sebaik-baiknya,
sehormat-hormatnya”

Perempuan itu bernama Nyai Ontosoroh ia telah melakukan perlawanan hampir sepanjang hidupnya. Perlawanan melawan nasib dantakdirnya. Dengan penuh kesadaran mencoba mengubah nasibnya melawan berbagai kemungkinan. Saat nasib mengantarkannya menjadi gundik Mellema, seorang amtenar Belanda ia hanya pasrah menerima takdirnya.

Membincang Puisi Protes

Jusuf AN
http://sastra-indonesia.com/

Dua hal yang penting untuk dikaitkan ketika kita membincang puisi, yakni penyair dan lingkungan yang melingkupinya. Sebuah puisi tentu saja tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal si penyair. Selain kondisi sosial budaya saat menciptakannya, perasaan dan ideologi penyair juga mempengaruhi sebuah puisi yang lahir. Puisi merupakan alat yang digunakan penyair untuk menyuarakan apa yang dilihat dan dirasakannya. Ketika bencana merajalela di mana-mana maka puisi berusaha merekamnya. Ketika kezaliman penguasa membabi buta, maka puisi lahir untuk menggugatnya. Ketika kebebasan berpendapat dibungkam penyair tetap dapat berteriak lewat puisi-puisinya.

Birokrasi!

Bandung Mawardi
Koran Tempo, 23 Okt 2011

Sejarah Indonesia adalah sejarah tuan dan hamba (patron-client ). Kita bakal menelisik ini dari proses modernisasi awal di Nusantara, agenda transformasi sosial-politik-ekonomi, ketamakan kolonial, dan utopia kemodernan kaum pribumi. Perkebunan, pabrik gula, birokratisasi, percetakan, pendidikan, dan transportasi menjadi prolog modernisasi pada abad XIX. Perubahan-perubahan ini lekas melahirkan dikotomi politik, ekonomi, sosial, dan kultural. Sejarah pun bergerak dalam dikotomi telak: tuan dan hamba.

Sumpah Bersejarah

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Bahasa Indonesia bermula dari proyek kebangsaan. Ini setidaknya bisa dilihat sejak Sumpah Pemuda 1928, di mana harapan untuk menjadikan bahasa sebagai proyek nasionalisme di kalangan kaum pergerakan mencapai puncaknya dengan membacakan ikrar bersama tentang pentingnya memiliki satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa.

Tadarus Sastra Para Penyair

Ribut Wijoto
http://www.beritajatim.com/

Lebih dari seratus sastrawan dan masyarakat berkumpul di pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Genteng Kali, Surabaya, Senin (22/8/2011) malam. Menikmati sajian musik dan baca puisi.

Ada lebih dari 18 penyair bergiliran membacakan puisi. Mayoritas penyair muda. Ada penyair Dian Nita Kurnia, Saiful Anam, Dheny Jatmiko, Ahmad Fatoni, Gita Pratama, Deny Tri Aryanti, dan lain-lain. Para penyair senior pun turut meramaikan. Semisal Aming Aminudin, Saiful Hadjar, Tjahjono Widarmanto, dan lainnya.

[Perempuan] Inggit Putria Marga

Frans Ekodhanto
Koran Jakarta, 14 Agu 2011

PEREMPUAN ini lebih memilih puisi karena sangat misterius. Menurut dia, puisi mengundang banyak persepsi, tafsir, lebih menantang, dan lebih menuntut kompleksitas.

Di kamar hotel 317 yang terletak di salah satu jantung Kota Palembang, beberapa waktu lalu, Inggit berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang proses kreatifnya. Dari bibirnya yang basah, terucap rangkaian cerita pada masa kecil hingga menjadi penyair papan atas.

Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival 2011

Febby Fortinella Rusmoyo
http://www.kompasiana.com/febbyfortinellarusmoyo

Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 kembali diselenggarakan di Pekanbaru, kali ini ini mengupas tema “Sastra Multikultural”. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 13 Oktober 2011, di Galeri Ibrahim Sattah, Kompleks Bandar Serai Pekanbaru. Hadir sebagai pembicara adalah dua orang penyair yang berasal dari negara yang berbeda, yaitu Sean M. Whelan dari Australia, dan Budy Utamy dari Indonesia, tepatnya dari Riau, dengan pembawa acara Refila Yusra (Komunitas Paragraf Pekanbaru) dan sebagai moderator sekaligus interpreter yaitu Febby Fortinella Rusmoyo (Komunitas Paragraf Pekanbaru).

JILFest 2011 Mengangkat Citra Sastra Indonesia Di Dunia Internasional

E. Syahputra
http://www.sumbawanews.com/

“Syair ini kupersembahkan untukmu/tatkala malam memekat langkah sang lautan/Cinta telah bertarung kembali dengan jaraknya/engkau nian terlukis di saat ombak.” Bunyi salah satu bait dari puisi cinta Leonowens SP yang berjudul “Ivory” saat dibacakan pada pembukaan The 2nd Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2011 di Gedung Kesenian Jakarta (7/12).

Sastrawan Jawa Timur: Peta Kebangkitan Jaman

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.

Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.

Sastra Pesantren dan Kosmopolitanisme Islam

Syarif Hidayat Santoso
Kompas Jawa Timur, 2005

Terdapat problem dalam merumuskan apa yang dimaksud dengan sastra pesantren. Disatu sisi, sastra pesantren dimaknai sebagai alur keislaman profetik dalam bersastra ria pada masa Arab klasik, sementara ada pula yang memberi limitasi sastra pesantren hanyalah karya yang dihasilkan para santri (Kompas Jatim, 6/9/2005). Tapi, kedua tataran ini jelas menunjukkan bahwa sastra pesantren merupakan kesusasteraan yang diikat dalam nuansa Arab-Islam plus penambahan area dari lingkungan pesantren atau minimal bagi kalangan yang dekat dengan pesantren.

Suara Kemanusiaan Penyair Iran dan Dunia

http://indonesian.irib.ir/
2011 Oktober 01

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad dalam pembukaan seminar para penyair Iran dan dunia mengatakan, “Dewasa ini, pesan kemanusiaan para penyair yang mengusik arogansi negara-negara adidaya global adalah sebuah perjuangan besar.” Ahmadinejad menegaskan, bahasa adalah manifestasi akal dan psikis dan spirit. Namun, puncaknya membuncah dalam bahasa yang dikemukakan dengan perasaan dan kecintaan. Bahasa cinta berbeda dengan bahasa para filosof.

Pergulatan Sastra Pesantren; Sebuah Harapan

M. Arwan Hamidi*
http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/

Prof. Drewes, sarjana bahasa Jawa, Melayu dan Arab dari Leiden, dalam bukunya Javanese Poems Dealing wuth, or Atributed to the Stain of Bonang (1968), pernah mengkritik sangat tajam ahli antropologi dari Amerika, Clifrord Geertz mengenai pengamatannya tentang Islam di Jawa: “kalau kita membaca pengamatan Geertz mengenai Islam di Jawa, maka kita akan mendapat kesan seolah bangsa Jawa adalah bangsa yang buta huruf. Karya sastra Islam sama sekali tidak disebut: tidak satu kitab kuningpun yang disebut dan juga karya sastra Islam dalam bahasa Jawa dibaitkan secara total….” (Karel A. Steenbrink, 1988).

Bayang Negeri Tropis

Yusri Fajar *)
http://nasional.kompas.com/

Akhirnya aku tiba di negeri kelahiran Shakespeare, sastrawan ternama Inggris yang dikagumi banyak orang. Pilot mengumumkan beberapa saat lagi pesawat akan mendarat. Hari masih pagi namun bandara Internasional Heathrow London sudah ramai oleh penumpang yang datang dan pergi. Aku datang ke sini untuk menghadiri pentas puisi sekaligus menemui Carina di kota Leeds. Dari London aku akan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Leeds. Carina pasti sudah menunggu kedatanganku.

Dicari: Rektor Bervisi Budaya

Udo Z. Karzi
Lampung Post, 3 Agu 2011

UTOPIA! Ya, begitulah saya memberanikan diri menulis tentang kemustahilan. Tapi, betapa pun sia-sianya melontarkan ide ini—sebagaimana ketika saya coba uji tanya gagasan ini kepada rekan-rekan—artikel ini tetap harus ditulis. Walaupun hasilnya cuma munggak-medoh alias ngalor-ngidul. Hahaa. Setidaknya untuk memberitahu pihak Universitas Lampung (Unila) bahwa ada yang terasa janggal ketika Unila menggagas universitas kelas dunia.

Sastra China: Bangkit dari Mati Suri

Lan Fang, Anung Wendyartaka
Kompas, 2 Juni 2008

DUA minggu lalu, tepatnya tanggal 13 Mei, adalah peringatan 10 tahun reformasi. Imbas positif dari gerakan reformasi yang mengorbankan nyawa beberapa mahasiswa Trisakti, Jakarta, ini bagi masyarakat di Indonesia adalah dibukanya keran-keran kebebasan berekspresi bagi seluruh elemen masyarakat yang selama ini sempat dibungkam oleh pemerintahan Orde Baru.

Penyair pun Berpesta

Adhitia Armitrianto
http://www.suaramerdeka.com/

DOROTHEA Rosa Herliany (Magelang), Sosiawan Leak (Solo), dan Martin Jankowski (Berlin, Jerman), Jumat (21/7) malam, telah menghibur ratusan penonton di auditorium Univesitas Muria Kudus (UMK).

Namun duet Leak dan Martin saat membacakan puisi “Vorortzug Jakarta-Bogor (Kereta Api Jakarta-Bogor)” agak terganggu. Sebab, Leak mendapati halaman kosong dalam buku yang dibacanya.

Dari Korea hingga “ayam” Riau

Fazar Muhardi
http://m.antarariau.com/

Pembukaan acara pertemuan penyair Korea-ASEAN atau Korean-ASEAN “Poets Literature Festival” (KAPLF) ke II di Pekanbaru, Provinsi Riau, Selasa malam, diwarnai paduan penyair dengan ragam bahasa, dari Korea hingga bahasa “ayam” khasnya orang Riau.

Diawal pembukaan, dengan kental sang penyair kawakan asal Korea, Ko Hyeong Ryeol, menguntai kata-kata “mutiara” yang membuat ratusan hadirin dari berbagai negara mulai dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Birma, Filipina dan Singapura terpukau dengan sendu.

Al-Makmun, Khalifah Pengembang Sains

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Abdullah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid (813-833 M) mulai memerintah Bani Abbasiyah pada 198-218 H/813-833 M. Ia adalah khalifah ketujuh Bani Abbasiyah yang melanjutkan kepemimpinan saudaranya, Al-Amin.

Untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu, Khalifah Al-Makmun memperluas Baitul Hikmah (Darul Hikmah) yang didirikan ayahnya, Harun Ar-Rasyid, sebagai Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan, dan tempat penelitian. Lembaga ini memiliki ribuan buku ilmu pengetahuan.

Penerjemah Sastra

Herie Purwanto
http://www.suaramerdeka.com/

MUNGKIN sudah saatnya dibentuk lembaga penerjemah sastra. Ya, gagasan awal yang dilontarkan Sapadi Djoko Damono itu perlu ditindaklanjuti.

Mengapa? Dalam Jurnal Nasional (edisi 004/Februari 2007), Sapadi menyatakan prihatin karena banyak karya sastra Indonesia tak kalah bagus dari negara lain, khususnya Spanyol, Italia, Rusia, dan Swedia yang acap mendapat Nobel sastra. Pemerintah berbagai negara itu punya kemauan politik dan sangat peduli terhadap eksistensi sastra.

Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam

http://gusdurian.net/
Majalah Horison, 7/1984

Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin)

Leila Chudori Tampil di Festival Sastra Belanda

Ging Ginanjar
http://www.tempo.co/

Den Haag - Dinginnya udara tak menghalangi orang berduyun-duyun mendatangi festival sastra internasional Winternachten di Theatre aan het Spui, Den Haag, Belanda. Festival yang berlangsung empat hari, 19-22 Januari 2011, ini diisi beragam acara mulai dari pertunjukan film, musik, pembacaan puisi, hingga diskusi.

Melankoli Sebentar Sembari Minum Kopi

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Entahlah..
Perkenankan saya buka kalimat saya dengan kata bermakna ketidaktahuan itu. Dalam batin saya hanya ingin sekadar menulis.

Jogja mendadak garang saat ini. Lepas beberapa jam di belakang, hujan yang sebentar. Lebih tepatnya gerimis yang merintik-rintik. Nuansa melankolik [melankolis? melankoli?] bermunculan di seputar tempat saya duduk.

Para Pewaris Ronggeng Gunung

Pandu Radea
http://www.kabar-priangan.com/

Bulan pucat pasi, bergetar di atas riak gelombang. Angin laut menderu-deru mengiris malam. Waktupun terasa berdetak lambat seolah ingin menegaskan harapan yang tersirat pada wajah wanita yang benama Pejoh.

Dialah yang menjadi pemeran utama malam ini. Tokoh kunci yang akan mentasbihkan sekelompok peronggeng muda yang akan menjadi pewaris kesenian khas Ciamis di masa yang akan datang. Calon peronggeng gunung yang merupakan generasi muda dibawah asuhan Neng Peking malam itu didaulat untuk melanjutkan amanat karuhun, menari dan mendendangkan wawangsalan buhun Dewi Siti Samboja.

Membaca Katarsis karya “HADI NAPSTER”

Epilog “KATARSIS” Karya Hadi Napster
Imron Tohari
http://sastra-indonesia.com/

Ketidaksempurnaan dan kerusakan, yang terlihat di mana pun,
semuanya adalah cerminan keindahan.
Pengatur tulang, di manakah dia dapat mencoba ketrampilannya
kalau bukan pada persendian yang patah? Penjahit di mana?
Tentunya bukan pada busana siap yang indah potongannya.
Bila tiada tembaga kasar ditempat peleburan,
bagaimana ahli kimia dapat mempertunjukan keahliannya? (Jalaluddin Rumi)

Setahun Pelangi Sastra Malang

Denny Mizhar
__Pelangi Sastra Malang

Pada mulanya adalah pertemuan yang sering terjadi antara saya dan Ragil Supriyanto yang biasa dipanggil Ragil Sukriwul. Saya diajak gabung di Komunitas Mozaik Malang dengan gerak yang merambah dunia seni dan sastra. Tetapi saya belum intens, hanya ketika Mozaik dengan penerbitannya menggarap antologi cerpen yang diberi judul “Pledoi: Pelangi Sastra Malang dalam cerpen” saya dimintanya untuk memegang tanggung jawab di bagian produksi: membantu mencari dana penerbitan hingga buku tersebut terbit pada tahun 2009.

Seksualitas dalam Fiksi Soni

Judul Buku: Empat Dayang Sumbi dan sepuluh cerita lainnya
Penulis : Soni Farid Maulana
Penerbit : Komunitas Sastra Lingkar Selatan – Cetakan 1, 2011
Peresensi : Nazaruddin Azhar *
http://www.kabar-priangan.com/

Soni Farid Maulana, penyair produktif itu kembali menerbitkan buku. Kali ini buku “Empat Dayang Sumbi dan sepuluh cerita lainnya”. Isinya empat cerpen dan “Sepuluh cerita lainnya” dalam judul itu adalah jumlah fiksi mini yang ditulis Soni, yang dalam bahasanya diterangkan sebagai cerpen-puisi mini. Tentu istilah ini terdengar agak memaksa, makanya ijinkan saya menyebut “Sepuluh cerita lainnya” itu dengan istilah fiksi mini saja.

Membaca, Membuka Cakrawala

Neni Nureani
http://www.kabar-priangan.com/

Seperti anda tahu, minat baca bisa dibilang cukup rendah. Membaca merupakan kebutuhan manusia yang sama pentingnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, dan seperti kebutuhan lain yang harus dipenuhi setiap hari. Membaca bukanlah kebiasaan yang biasa, tapi hal biasa yang harus dibiasakan, karena manfaatnya sangat besar untuk masa depan.

PUISI: Melayat Kemanusiaan Kita

Muhammad Rain *
http://sastra-indonesia.com/

Puisi dapat dinikmati dengan beragam cara. Ada dua cara di antara ragam penikmatan dan pemahaman puisi sebagai benar satu (kita tak mau salah) karya sastra sebagaimana yang disampaikan oleh M. Saleh Saad dalam Prasaran Catatan Kecil Sekitar Penelitian Kesusastraan miliknya yang dimuat dalam buku Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru (Ali, ed., 1967: 111 – 27; 128 – 51). Pertama, bersatu dan menenggelamkan diri ke dalam karya sastra itu, sehingga persoalan yang ada ialah merasakan; dan cara kedua ialah menikmatinya secara sadar dengan memanfaatkan kaidah atau kriteria tertentu untuk menganalisis karya sastra, sehingga persoalannya ialah menilai secara obyektif.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com