Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Perempuan dalam Dunia Cerpen

Antologi tentang cerpenis perempuan dan karya mereka. Sumbangan bagi literatur sastra dan kajian perempuan.
Dunia Perempuan: Antologi Cerpen Wanita Cerpenis Indonesia
Penyunting :Korrie Layun Rampan
Penerbit :Bentang Budaya, Yogyakarta, November 2002, 620 hlm. + xxx.
Peresensi :Anton Kurnia
http://majalah.tempointeraktif.com/

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000.*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Awalnya masih menaruh pikiran positif. Di kepala seakan tertera kata-kata, “pasti pidatonya mbeneh, bukan awut-awutan,” nyata tebakan itu meleset. Pun ingin husnudzon, mungkin tak tahu sumber aslinya. Namun apakah mungkin, sastrawan terkenal yang banyak mendapati penghargaan, cuntel keilmuan?

Sabtu Malam Bersama Afrizal Malna

Muhajir Arrosyid
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Di luar gerimis rintik-rintik. Mungkin karena gerimis itu, atau karena lebih berat menyaksikan tim merah putih berlaga, maka dari awal sampai akhir, acara yang diselanggarakan oleh Hysteria ini tidak tambah satu orangpun peserta.

Di antara peserta itu antara lain Eko Tunas, sastrawan sekaligus pemain drama yang minggu ini sedang melaksanakan Tour keliling Jawa Tengah dengan pementasan monolog berjudul Korsi, hadir pula Harjito, pengamat Sastra media, dan Aulia Muhammad, penulis esai yang sebentar lagi akan menerbitkan buku baru.

Puan Tanjung

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

AKAN kurampungkan kisah ini lebih cepat karena memang aku bukan Syahrazad. Dan aku bukan pula seorang pelaut dalam dongeng pengembaraan Simbad. Aku hanya pelaut yang mendadak kehilangan selera hidup setelah apa yang tak pernah kuangan-angankan (pun kuingin-inginkan) datang kemudian berlalu begitu saja.

Surabaya 1962, Kerja sebagai Sumber Estetika

Ribut Wijoto
http://sastra-indonesia.com/

Bila engkau tanyakan tiga tema paling sering muncul dalam khazanah puisi Indonesia, aku menyebutkan tiga hal: kesunyian, religiusitas, dan cinta. Ketiganya bergerak dalam pertautan tiga wilayah kebahasaan, yaitu ketuhanan, alam raya, dan pesona tubuh manusia. Sejarah puisi Indonesia, tidak kurang tidak lebih, dihidupi oleh ketiga tema tersebut.

MIMPI BURUK PENARI

Naskah Teater Monolog Penari
Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Adegan 1

Seorang penari muda menarikan sebuah tarian. Ia sungguh menghipnotis para penonton dengan kelincahan gerakannya. Ceriah wajahnya bagai rembulan. Penari mudah itu sungguh asyik menarikan sebuah tarian tradisi jawa. Sebelum berakhir lampu panggung mendadak gelap dan terjadilah sebuah tragedi yang amat gelap bagi Penari Muda itu. Musiknya yang rancak seperti menjerit ikuti jeritan penari itu. Lampunya menyala menyambar seperti kilatan.

Penari Muda

Jangan perkosa aku. Aku seorang penari. Aku bukan pelacur
………………………………………………………………

Beberapa kalimat itu meluncur dalam jeritan penari. dan berakhir dengan jeritan panjang yang mencekik. Suasana menjadi spontan gelap. Lampu gelap. Cahaya berhenti menjilat.

Adegan 2

Musik dawai mengalun. Lamat-lamat lampu menyala pada satu titik. Terlihat seorang perempuan melakukan gerakan ritmis dan lembut. Ia seperti penari topeng, namun tidak memakai topeng. Pipinya banyak keru…

Menikmati Pembacaan Esai-esai Eduardo Galeano

Esai-esai Eduardo Galeano yang diterjemahkan oleh Halim HD
Odi Shalahuddin
http://www.kompasiana.com/odishalahuddin

DI Uruguay, tahanan politik tidak boleh bicara tanpa ijin. Juga tidak boleh bersiul, tersenyum, menyanyi, berjalan cepat, menyapa sesama tahanan lainnya. Mereka juga tak diijinkan membuat atau menerima foto atau gambar-gambar perempuan hamil, sepasang kekasih yang bersanding, kupu-kupu, bintang-bintang di langit atau burung yang sedang terbang atau hinggap di rerantingan.

Pada suatu minggu yang cerah, Didasko Perez, seorang guru yang dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa oleh rejim militer hanya karena memiliki gagasan ideologis, dikunjungi oleh anak perempuannya, Milay namanya, berusia lima tahun. Milay membawakan ole-ole untuk ayahnya gambar burung-burung yang riang bersijingkat yang dibikin olehnya. Di pintu gerbang halaman, sebelum Milay memasuki pintu penjara, penjaga mencabik-cabik gambar itu. Dan Milay hanya bisa menahan tangis dan sedih di dalam hatinya.

Pada …

Perburuan dan Kelincahan Metodis

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

Selalu tidak ada titik temu dalam polemik sastra. Di satu sisi, ada sebagian masyarakat sastra yang menghendaki bahwa karya sastra adalah media komunikasi, sekaligus estetika. Di seberang sisi yang lain sangat berbeda. Karya sastra hendaknya dibebaskan dari beban-beban komunikatif tersebut. Karena itu, sastra adalah estetika. Sastra tiada lain hanyalah seni.

Golongan yang pertama, mewakili golongan modern yang mempertahankan nilai fungsional sastra. Sedangkan golongan yang kedua, adalah para sastrawan pascamodern yang menghendaki kebebasan penafsiran atas teks sastra, secara terus-menerus tanpa henti, sesuai dengan selera pembacanya.

Sekilas, golongan pertama adalah moralis. Sastra memang digunakan sebagai strategi moral dan kepentingan sosial. Hal ini dapat ditemui di mana saja, misalnya tatkala teks sastra, menuliskan penderitaan orang-orang kecil dan tertindas, pemihakan sosial, kritik sosial, ungkapan religius kebudayaan tertentu dan la…

Menuju Kebudayaan Baru itu Meniru Barat

Meneropong Thaha Husein dan Sutan Takdir Alisyahbana
Aguk Irawan Mn
http://www.sinarharapan.co.id/

Di saat gelombang perdebatan Manikebu Vs Lekra bertemu di puncak yang sangat sengit (1950-1965), Mesir juga mengalami persengketaan yang meluap dan tak kalah sengitnya. Permasalahannya juga tak jauh berbeda, yaitu dalam hal dan cita-cita ”mewujudkan kebudayaan baru” persoalan itu digiring melalui konsepsi ”bahasa dan sastra Arab”. Pelaku perdebatan adalah para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi.

Dalam perdebatan tersebut, ada satu nama yang sangat penting. Ia bernama Thaha Husein (1889-1973), sastrawan tunanetra yang pernah menjabat sebagai menteri pendidikan di Mesir (1950-1952). Husein lahir pada tanggal 14 Nopember 1889 di kota kecil Maghargha dari keluarga petani.

Pendidikannya diawali di Kuttab, lembaga pendidikan dasar tradisional, dan kemudian melanjutkan di al-Azhar (1902). Setelah belajar kira-kira sepuluh tahun, ia meninggalkan al-Azhar karena tidak menyukai dan…

Hanya Bisa Meratap

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Di depan rumah, Mbah Sanusi duduk sambil menghisap rokok. Dari mulutnya keluar kepulan asap membumbung menerpa atap rumahnya. Seketika asapnya menghilang bersama hembusan angin yang lewat pada siang hari. Tubuh kurus yang terbalut seragam veteran disandarkan pada kursi goyang peninggalan orang tuanya sewaktu zaman penjajahan. Di sebelah kanan seragam dinasnya tersemat lencana veteran yang dikenakan setiap peringatan hari pahlawan.

Kampung Kecubung

Yulizar Fadli
http://www.lampungpost.com/

BULAN benjol. Segaris awan tersua di bawahnya. Sedang di dalam lapo tuak berdinding papan, empat bujang berkumpul dengan penerangan yang remang. Kelihatannya ingin mabuk mereka. Sudah secerek tuak mereka tandaskan. Tanpa sepengetahuan Otong, Yariman, dan Puguh—karena ketiganya terlalu asyik menikmati lagu dangdut yang bikin kepala mereka manggut-manggut—Upik mengeluarkan sebotol minuman mirip teh. Selain Upik, tak ada yang tahu apa nama minuman itu. Pokoknya, racikannya terbuat dari biji tumbuhan berbahaya, tumbuh liar di hampir seluruh kampung.

Ada juga persaingan cinta tak sehat antarremaja kampung. Mirip persaingan pejabat tinngi di negeri ini. Ah, adakah api cemburu membakar Upik? Tak tahu juga. Yang jelas, satu botol sudah digasak Yariman. Alunan musik dangdut membuat kepala mereka bertambah berat. Perlahan, tubuh dan kaki Yariman lemas, seolah tanpa sum-sum. Pandangannya buyar. Pingsan. Upik menyeringai. Puguh khawatir. Sinar matanya ber…

Macan Lapar

Danarto
http://cerpenkompas.wordpress.com/

Ketika saya membaca SMS dari sahabat saya William John dari California bahwa ia akan datang ke Solo untuk mencari Putri Solo yang gaya berjalannya seperti Macan Lapar, saya terbahak. Ketika ia melanjutkan SMS-nya bahwa jika ia tidak menemukan seorang Putri Solo yang Macan Lapar itu, dalam bahasa Jawa: Macan Luwe, berarti saya menyembunyikannya. Lagi-lagi saya terbahak.

Sebaliknya saya mengancam, jika ia main-main saja dengan Putri Solo, misalnya mengajaknya kumpul kebo, saya akan melaporkannya ke Presiden Obama. Ternyata John berani bersumpah bahwa ia serius akan menikahi Putri Solo yang Macan Lapar itu dan memboyongnya ke Amerika. Anak keturunannya kelak, janji John, merupakan masyarakat baru Amerika yang akan mendatangkan berkah. Saya menyambutnya dengan mengucap amin, amin, amin. Okey, jawab saya. Insya Allah, John, saya akan membantumu untuk menemukan Putri Solo si Macan Lapar itu.

John adalah seorang arkeolog. Perkenalannya dengan dunia …

Orang Gila

Muhammad Ali Fakih
__Republika, 19 Juni 2011

SUDAH sekitar tiga bulan orang gila itu tinggal di kampung kami. Tidak ada yang tahu asal usulnya, seperti juga tidak ada yang tahu mengapa dia menjadi gila. Orang-orang hanya merasa kasihan dan bertanya-tanya, mengapa sanak keluarganya tidak mencarinya? Apakah dia tidak punya keluarga? Mengapa dia begitu betahnya di kampung kami?

Tak seorang pun yang peduli padanya. Barangkali pikir orang-orang, siapa pula yang mau peduli sama orang gila. Paling-paling kalau diajak bicara dia hanya ketawa-ketawa atau nyerocos tidak jelas. Tidak nyambung. Mending kalau tidak ngamuk, tapi kalau ngamuk? Tambah rumit urusannya.

Kerjaannya tiap hari hanya duduk-duduk di bawah pohon asam tua dekat pasar. Pagi-pagi ketika aku mengantar ibu ke pasar, pasti aku melihat dia duduk bersila menghadap ke barat, memejamkan mata sambil memutar-mutar tasbih dan mulutnya berkomat-kamit. Entah apa yang dibacanya, aku tidak tahu. Pikirku, mungkin dia baca mantra atau semacam …

Sang Eksekutor

M. Taufan Musonip
http://www.lampungpost.com/

AKU mencurigai apa yang telah sesungguhnya terjadi di dunia ini, Brigitta. Tidak terjadi sebagaimana adanya kukira, dan tiba-tiba aku hanya harus percaya pada merdu suara dawaimu. Apakah mungkin aku harus mencinta Tuhan melalui dirimu, kasih. Dia seperti menjelma dalam jemari halusmu dalam dawai, dalam merdu lagumu itu.

Tapi ketika kenyataan lewat di kepalaku, aku harus bertanggung jawab pada peristiwa. Aku harus membunuh senja, menikam pagi yang melingkupi tubuh kita. Melumuri keindahan dengan darah. Sebab, kasihku, kau tahu aku adalah sang eksekutor, di tengah perebutan orang-orang memperjuangkan kedamaian.

Dan dengan darah kupersembahkan dawai yang melekat di bahumu itu. Di dadaku suara dawaimu bersatu dalam kegelisahan: dawaimu menyayat-nyayat keberadaanku, kau menciptakan purnama, aku membunuhnya. Kau memberiku pilihan, dan aku bertanggung jawab pada peristiwa, kupilih jalan penuh darah sambil terus menghidupkan bayang-bayang kerindua…

Perempuan Gembel Debleng

Jusuf AN
__Majalah Esquere, Apri 2011

Bagaimana mungkin? Bawuk, perempuan paling cantik di kampung itu, yang telah sekian lama hidup di kota, ternyata memiliki rambut gembel, rambut kusut yang seolah membeku—beratus helai menyatu menjadi gumpalan-gumpalan—berwarna coklat kemerah-merahan, tak sejuk dipandang. Warga di daerah itu percaya rambut gembel tak boleh dipangkas sekehendak hati. Konon, selain rambut serupa akan tumbuh lagi, si empunya juga akan diserang sakit yang tak remeh.

Tetapi rambut gembel Bawuk punya cerita lain.[1] Betapa tidak, tiga kali ruwatan telah dilaksanakan, rambut serupa bulu domba yang tumbuh di ubun-ubunnya—gembel debleng (semua huruf “e”-nya dieja seperti ketika kau melafalkan kata “emosi”), begitu warga menyebutnya—selalu tumbuh kembali. Berkali-kali pula Bawuk memangkas rambutnya sendiri, nyatanya ia tak diserang sakit apa-apa. Betapa anehnya!

“Semoga ruwatan keempat kali nanti bisa memulihkan rambutnya,” demikian Tamrin, bapaknya Bawuk berharap.

“Tetapi s…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com